Ini Kiat Untuk Jaring Pengguna e-Commerce

Danar Retno Sari

Danar Retno Sari

SLEMAN – Sebuah sumber menyebutkan, pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai sekitar 130 juta orang. Sumber lain menunjukkan, transaksi e-commerce pada 2016 mencapai Rp 66,4 triliun. Sebuah jumlah yang cukup fantastik. Perlu kiat khusus bagi penyedia layanan atau penjual e-commerce jika ingin menjaring pengguna sebanyak mungkin. Penelitian mahasiswa pascasarjana UII menunjukkan kiat tersebut.

“Dimensi budaya ternyata mempengaruhi penggunaan e-commerce. Bahkan perbedaan domisili menunjukkan perbedaan pengaruh dimensi budaya terhadap penggunaan e-commerce,” ungkap mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Danar Retno Sari, di kampus setempat, Senin (12/2).

Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadi hal yang menarik untuk dilakukan penelitian tentang pengaruh dimensi budaya terhadap perilaku penggunaan e-commerce di wilayah berbeda. Dengan mengetahui dimensi budaya yang berpengaruh, diharapkan dapat membantu pengguna e-commerce khususnya penjual untuk menyusun strategi yang tepat dalam memasarkan produk dan berkomunikasi dengan pelanggan di masing-masing daerah.

“Bagi penyedia layanan e-commerce diharapkan dapat mengembangkan sistem yang dapat mengakomodasi variasi pemasaran suatu produk berdasarkan domisili pelanggan,” jelas Sari didampingi dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasrjana FTI UII, Dr R Teduh Dirgahayu.

Sari yang melakukan penelitian di DIJ dan Kaltim menemukan, ada dimensi budaya berbeda yang mempengaruhi pengguna e-commerce. Jika di DIJ dimensi power distance dan masculinity yang mempengaruhi, maka di Kaltim dimensi budaya uncertainty avoidance yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Kaltim.

Tingkat power distance yang tinggi di DIJ membuat pengguna e-commerce khususnya pembeli melakukan aktivitas belanja online dipengaruhi oleh orang-orang terdekat yang memiliki strata hirarki lebih tinggi. Dimensi masculinity menunjukkan kondisi masyarakat yang memiliki orientasi yang ambisius, kompetitif dan pengakuan atas pencapaian suatu hasil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan e-commerce.

“Berdasarkan hasil penelitian itu, cara yang tepat untuk memasarkan produk bagi penyedia layanan atau penjual e-commerce di DIJ adalah dengan menunjukkan sisi kompetitif terhadap barang atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen,” saran Sari kemudian.

Tingkat penghindaran ketidakpastian yang cukup tinggi dan berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Kaltim, pengembang teknologi e-commerce disarankan untuk dapat menonjolkan sisi keamanan kepada pengguna sehingga tingkat kepercayaan diri pengguna menjadi tinggi. “Penjual juga dapat melakukan strategi pengiklanan dengan menunjukkan tentang fasilitas yang didapatkan konsumen, seperti garansi, ketersediaan service center, atau hal-hal berkaitan dengan pelayanan jangka panjang,” tandas Sari.

Diharapkan dimensi budaya yang memiliki pengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce dapat dijadikan alternatif pemasaran dan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan domisili pembeli. Dimensi budaya dapat dijadikan pula fokus baru sebagai bahan pertimbangan dalam menjalin komunikasi antara penjual dan pembeli.

Ketika penjual ingin memasarkan sebuah produk smartphone di DIJ, misalnya, hal yang dapat dilakukan untuk menarik minat konsumen dengan menonjolkan fitur-fitur kompetitif dengan produk yang lain. Di Kaltim hal yang perlu ditonjolkan, ketersediaan service center dan garansi terhadap produk tersebut. “Menampilkan testimoni pada produk yang akan dijual, juga dapat mengoptimalkan pengaruh ketiga dimensi budaya di kedua daerah,” papar Sari. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan