Ini Kritik Gubernur DIY pada Dikdasmen

Anugerah Prestasi: Gubernur DIJ, Hamengku Buwono X, memberikan penghargaan Anugerah Prestasi 2018 kepada salah seorang siswa berprestasi, di GOR Amongrogo, Jogjakarta, Rabu (19/12).

Anugerah Prestasi: Gubernur DIJ, Hamengku Buwono X, memberikan penghargaan Anugerah Prestasi 2018 kepada salah seorang siswa berprestasi, di GOR Amongrogo, Jogjakarta, Rabu (19/12).

JOGJA – Ada lima negara, Finlandia, Jepang, Korsel, Denmark, dan Rusia, dari 2009 negara yang dinilai telah berhasil menyiapkan generasi muda atau peserta didik mereka menghadapi industri berbasis pengetahuan. Indonesia jelas tidak termasuk. Bahkan Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia dinilai belum mampu mencetak siswa yang kritis dan analitis sebagai bekal kelak menjadi ilmuwan.

“Bukan hanya belum mampu mencetak siswa seperti itu, bahkan Dikdasmen gagal menginspirasi siswa untuk berkembang menjadi peneliti,” kritik Gubernur DIJ, Hamengku Buwono X, pada penyerahan penghargaan Anugerah Prestasi 2018, di GOR Amongrogo, Jogjakarta, Rabu (19/12), bagi siswa juara, pembimbing, dan pelatih berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Tanpa siswa peneliti, imbuh HB X, perguruan tinggi dipastikan akan kesulitan untuk mengembangkan riset. Akibatnya, swasta juga kesulitan untuk berkompetisi karena minimnya hilirisasi ke arah inovasi industri. “Itu semua akan menyulitkan Indonesia untuk bisa mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan,” katanya.

Begitu pula di bidang kepemudaan dan olahraga. Olahraga di Indonesia belum atau bahkan tidak berintegrasi dengan pendidikan. Di negara maju, prestasi olahraga senantiasa ditopang oleh sekolah. “Bahkan penghargaan di bidang kepemudaan dan olahraga masih kalah dengan kontes-kontes idola penyanyi,” tutur HB X kemudian.

Kalaupun muncul wirausahawan atau kaum muda yang ahli di bidang teknologi informasi, misalnya, itu lebih karena prakarsa sendiri. “Hari ini saya bangga bisa memberikan penghargaan bagi manusia-manusia mandiri yang peduli pentingnya prestasi bagi bangsa. Penghargaan bagi yang berkarya dan mengabdikan tanggungjawab serta panggilan jiwanya,” tandas HB X.

Penghargaan sederhana kali ini, imbuh HB X, merupakan usaha agar prestasi terus maju. “Tanpa kemajuan tersebut, semuanya akan mandeg oleh mandulnya inovasi dan kita akan terus kalah dengan bangsa lain,” tandas HB X.

Kadisdikpora (Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga) DIJ, Kadarmanta Baskara Aji mengaku cukup gembira karena dari tahun ke tahun jumlah penerima Anugerah Prestasi selalu meningkat. Rata-rata setiap tahunnya ada penambahan 40-50 orang.

Untuk tahun ini, penghargaan diberikan kepada 439 siswa berprestasi, pembimbing, dan pelatih. Ditambah dengan 18 penghargaan bagi atlet dan pelatih asal DIY yang mengikuti Asian Paragames yang baru lalu. “Penghargaan antara lain dimaksudkan sebagai pendorong generasi berikutnya untuk mengikuti prestasi serupa,” papar Aji lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan