Ini Mimpi Fisipol UGM Soal Sociopreneur

Expo: Expo yang diikuti 14 tenant di selasar kampus Fisipol UGM, 12-14 November 2018, menjadi bagian dari kegiatan Soprema 2018.

Expo: Expo yang diikuti 14 tenant di selasar kampus Fisipol UGM, 12-14 November 2018, menjadi bagian dari kegiatan Soprema 2018.

JOGJA – Tahun ini, untuk kali ketiga Fisipol UGM menggelar Soprema (Sociopreneur Muda indonesia). Sociopreneur diharapkan menjadi solusi bagi problem bangsa. Terutama menyangkut kesenjangan ekonomi. Fisipol UGM pun bermimpi menjadi rujukan nasional, bahkan mungkin internasional, terkait dengan sociopreneur tersebut.

“Jika di ITB ada technopreneur dan IPB punya agropreneur, maka di UGM tempatnya sociopreneur,” ujar Direktur YouSure (Youth Studies Centre) Fisipol UGM, M Najib Azca, di kampus setempat, Senin (12/11), usai pembukaan Expo Soprema 2018 mengawali rangkaian kegiatan Soprema hingga Rabu (14/11).

Soprema merupakan ajang kompetisi tahunan yang digelar Fisipol UGM bagi startup maupun pebisnis muda yang memiliki usaha yang tak hanya mengejar profit tapi juga mempunyai efek sosial. “Bahkan kepada peserta kompetisi, kami lebih menekankan aspek sosialnya ketimbang profit yang kemungkinan bisa diraih dari usaha mereka,” jelas Ketua Pelaksana Soprema 2018, Hempri Suyatna.

Pelaksanaan Soprema tahun ini, imbuh Hempri, agak berbeda dengan sebelumnya. “Kami kali ini lebih mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas. Ada tiga puluh startup, tiga puluh kickoff, dan tiga puluh peserta inkubasi,” katanya.

Melihat asal peserta, tahun ini lebih luas dibandingkan dua tahun sebelumnya. Jika pada 2016 peserta berasal dari 22 provinsi, tahun 2017 dari 28 provinsi, tahun ini berasal dari 29 provinsi. “Ini menunjukkan Soprema atau gagasan mengenai sociopreneurship mulai dikenal luas di seluruh daerah,” tandas Hempri.

Lima provinsi yang tahun ini tak mengirimkan wakilnya, meliputi Papua, Papua Barat, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara. “Papua dan Sulawesi Utara sebenarnya mengirimkan wakilnya, tapi tidak lolos karena kurang memenuhi kriteria sociopreneur yang kami maksud,” papar Hempri kemudian.

Dekan Fisipol UGM, Erwan Agus Purwanto mengemukakan, sociopreneur dapat dipakai sebagai bagian dari upaya untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang tak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. “Karena itu, satu unit usaha diharapkan memiliki dampak sosial guna mengatasi kesenjangan ekonomi masyarakat yang masih lebar ini,” katanya.

Soprema sekaligus menjadi persemaian anak-anak muda agar mereka memiliki kepekaan sosial, sekaligus mandiri dengan ide-ide kreatif di bidang bisnis. “Jangan hanya puas sukses materi, tapi sebagai calon pemimpin bangsa kelak, mereka juga harus peduli terhadap persoalan bangsa ini,” tandas Erwan.

Selain kompetisi, Soprema juga menggelar acara expo dan seminar yang setiap tahun berpusat di Yogyakarta. Dengan motto Express Your Creative Passions diharapkan mampu menyalurkan dan membina jiwa sociopreneurship pemuda di Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan bagi Indonesia. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan