Ini Pemikiran Futuristik Lafran Pane

Lafran Pane: (kiri-kanan) Mahfud MD, Siti Zuhro, Rochmat Wahab (moderator), Sjafri Sairin, dan Ikram Pawiroputro saat menjadi narasumber pada dialog nasional 'Refleksi Kepahlawanan Prof Lafran Pane', di kampus UNY, Rabu (13/12).

Lafran Pane: (kiri-kanan) Mahfud MD, Siti Zuhro, Rochmat Wahab (moderator), Sjafri Sairin, dan Ikram Pawiroputro saat menjadi narasumber pada dialog nasional ‘Refleksi Kepahlawanan Prof Lafran Pane’, di kampus UNY, Rabu (13/12).

JOGJA – Tokoh-tokoh nasional pengukir sejarah Indonesia selalu memiliki pemikiran yang futuristik, jauh ke depan, berkemajuan, melampaui jamannya. Sebut saja Soekarno, Moh Hatta, Syahrir, KH Agus Salim, HOS Cokroaminoto, dan lain-lain. Tak terkecuali Lafran Pane yang belum genap setahun ini ditahbiskan sebagai pahlawan nasional.

“Banyak buah pemikiran Lafran Pane pada saat itu yang kini baru terwujud. Contoh, pada tahun 1966 dan ditegaskan pada 1970 ia sudah berbicara soal amandemen konstitusi. Begitu pula soal pemilihan presiden secara langsung. Ternyata pemikirannya itu menjadi kenyataan saat ini,” ungkap pakar hukum tatanegara, Prof Dr Mahfud MD, di hadapan peserta dialog Refleksi Kepahlawanan Prof Lafran Pane, di kampus UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Rabu (13/12).

Tak hanya Mahfud, kesan yang sama pun diungkapkan narasumber lain. Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI Prof Dr R Siti Zuhro MA, Guru Besar Antropologi UGM Prof Dr Sjafri Sairin MA, dan dosen Pendidikan Kewarganegaraan UNY Drs Ikram Pawiroputro MPd. Begitu pula tokoh politik nasional Ir Akbar Tanjung yang pernah duduk sebagai Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Kendati bertempat di kampus UNY, sejatinya dialog nasional itu memang terselenggara atas kerjasama dengan pengurus KAHMI (Keluarga Alumni HMI). Selain dikenal sebagai guru besar pertama yang dimiliki UNY, atau IKIP Jogjakarta kala itu, Lafran Pane dikenal pula sebagai salah seorang pendiri HMI. “Pemikiran Lafran Pane memang sangat kental mempengaruhi kiprah HMI selanjutnya. Terutama dalam menjaga HMI sebagai organisasi netral dan komitmennya tentang keislaman dan keindonesiaan,” ujar Akbar Tanjung.

Pada saat orang-orang ditangkap dan dipenjara tanpa diadili karena mengusulkan perubahan UUD 1945, Lafran tetap teguh mengutarakan pemikirannya. “Dan ternyata pemikirannya ketika itu menjadi kenyataan pada era reformasi. Terjadi amandemen terhadap UUD 1945. Itu tidak keliru karena rata-rata konstitusi suatu negara itu diubah setelah berusia dua puluh tahun,” papar Mahfud.

Begitu pula soal pemilihan presiden secara langsung. Ketika itu Lafran berpendapat, jika mau konsisten dengan sistem presidensiil dan demokratis maka pemilihan presidennya pun harus dilakukan secara langsung. “Bukan malahan keliru seperti sekarang ini, dengan munculnya pendapat yang menyatakan pemilihan mestinya melalui DPR. Itu merupakan penafsiran keliru tentang ‘permusyawaratan perwakilan’ pada sila keempat Pancasila,” ujar Mahfud.

Tapi ada pula beberapa hal yang menurut Lafran Pane tak boleh diubah sampai kapan pun. Antara lain Pancasila sebagai dasar negara, tujuan negara, asas negara hukum, asas negara demokrasi, Indonesia sebagai negara kesatuan, dan bentuk pemerintahan. “Jika mau diringkas, jasa besar Lafran Pane adalah pemikirannya mengenai demokrasi yang berkeadilan serta tentang keislaman dan keindonesiaan,” tandas Mahfud.

Syafri Sairin mengusulkan, semestinya buah pemikiran orang-orang besar seperti Lafran Pane dituangkan ke dalam buku-buku sejarah untuk anak-anak sekolah. Tentu dengan bahasa yang pas sehingga menarik bagi anak usia SD, SMP, maupun SMA. “Bagaimana mungkin kita menuntut anak-anak meneladani tokoh-tokoh nasional jika kiprah mereka tidak kita tuangkan dalam buku-buku sejarah. Jangan hanya disuruh menghafal nama-nama dan membaca biografi yang ditulis monoton,” tegasnya.

Rektor UNY Prof Dr Sutrisna Wibawa menyatakan, dialog ini merupakan refleksi kepedulian UNY kepada Lafran Pane. Sedangkan ketua panitia, Dr Nasiwan mengemukakan, tujuan kegiatan ini untuk mensyukuri anugerah gelar kepahlawanan nasional yang diberikan pada salah seorang dosen UNY atas darma bhaktinya pada bangsa, negara, dan agama. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan