Ini Peran Sastrawan Di Era Disrupsi

Sastra USD: Tiga pembicara dan moderator seminar 'Multikulturalisme dalam Perspektif Pendidikan Humaniora Di Era Disrupi' dalam rangka dies natalis ke-25 Fakultas Sastra USD, di kampus setempat, Kamis (26/4).

Sastra USD: Tiga pembicara dan moderator seminar ‘Multikulturalisme dalam Perspektif Pendidikan Humaniora Di Era Disrupi’ dalam rangka dies natalis ke-25 Fakultas Sastra USD, di kampus setempat, Kamis (26/4).

JOGJA – Sistem keyakinan berbagai agama di dunia ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Ziarah, misalnya, menjadi ritual yang ada di hampir semua agama. Menjadi masalah besar, termasuk pada bangsa ini, ketika rasionalitas mulai tersingkir. Terlebih ketika semua manusia merasa menjadi ‘Tuhan’, menjadi super human. Ditambah dengan fenomena disruptif yang oleh banyak orang dimotori oleh teknologi.

“Jika dikaji mendalam, sebenarnya disrupsi sesungguhnya itu bukan oleh teknologi tapi oleh sastrawan. Gagasan-gasan besar sering lahir dari pemikiran sastrawan. Bukan dari teknologi,” ujar Rektor USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta, Johanes Eka Priyatma MSc PhD, di hadapan peserta seminar Multikulturalisme dalam Perspektif Pendidikan Humaniora Di Era Disrupsi, dalam rangka Dies Natalis Ke-25 Fakultas Sastra USD, di kampus setempat, Mrican Jogjakarta, Kamis (26/4).

Karenanya, Eka mendorong para sastrawan untuk berpikir keras ke hal-hal yang lebih filosofis sehingga bangsa ini bisa lebih maju. “Sastrawan harus lebih berperan dengan gagasan-gagasan besarnya, daripada yang berperan hanya para politikus yang hanya berpikir jangka pendek, mengejar kursi jabatan,” tutur pakar teknik informatika itu.

Dengan demikian keberadaan fakultas sastra sangatlah penting bagi pembangunan bangsa ini, di tengah gaya banyak orang yang menyingkirkan rasionalitas. “Berpikirlah para sastrawan dengan bingkai rasionalitas guna menghasilkan gagasan-gagasan besar sehingga peradaban manusia, peradaban bangsa ini, bisa lebih maju,” tandas Eka.

Salah seorang pembicara, Rm Dr Hary Susanto SJ menyatakan, tanggungjawab akademisi di tengah pluralisme budaya, antara lain mengembangkan interdisiplinaritas antar-ilmu, memberi peluang bagi perbedaan dan kreativitas dalam ilmu. “Pandangan dan sikap terbuka untuk mengatasi kesempitan dalam ilmu, serta berani mengambil sikap menyuarakan multikulturalisme maupun keluasan pandangan guna melawan monokulturalisme, unilateralisme, kesempitan dalam ilmu,” ujar dosen Fakultas Sastra USD itu.

Di era sekarang ini, tutur pembicara lain Dr Ninok Leksono, persoalan sulit dan kompleks harus ditangani oleh pikiran dalam. Guncangan yang ada memerlukan inovasi baru yang membutuhkan cara berpikir lain. Yakni cara berpikir inovatif, yang mustahil dipecahkan semata oleh ilmu eksakta atau humaniora. “Jalan keluar adalah melalui berpikir tingkat tinggi, higher-order thinking,” tegas Rektor Universitas Multimedia Nusantara itu.

Mengutip pendapat pakar, Ninok menyatakan, cara berpikir demikian hanya dapat dilaksanakan jika orang mengombinasikan ilmu-ilmu eksakta dan ilmu-ilmu humaniora. Sebelum persyaratan berat itu bisa dipenuhi, kita bahkan bisa bertanya lebih dulu, apakah pikiran dalam, pikiran tinggi, sulit dibentuk di era gawai dan multitasking yang mendominasi insan zaman now. Alih-alih pikiran dalam dan tinggi, tidak jarang justru kita mendengar musibah orang mendapat musibah karena autis akibat adiksi pada gawainya, yang dilihat sekitar 50 kali sehari, atau rata-rata sekali setiap 6,4 menit.

Seminar setengah hari itu juga menampilkan pembicara Constantinus Kristomo SS MH, alumnus Sastra Inggris USD tahun 1993 yang juga International Expert on Legal Aid and Access to Justice, yang membawakan makalah bertajuk Tantangan Akses Keadilan untuk Multikulturalisme Di Era Disrupsi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan