Ini Profesi Vital Di Era Disrupsi

R Bagus Fajriya Hakim (kiri) dan Teduh Dirgahayu

R Bagus Fajriya Hakim (kiri) dan Teduh Dirgahayu

JOGJA – Perkembangan dunia teknologi yang sangat cepat dan banjirnya data menjadi salah satu ciri era disrupsi. Pemanfaatan sistem dan teknologi informasi yang semakin intensif di berbagai bidang menghasilkan ledakan informasi, yang tercermin dari banyaknya data yang terkumpul dari semua transaksi yang terjadi. Fenomena yang disebut big data itu memunculkan tantangan baru, bagaimana mengolah data tersebut menjadi informasi yang bermanfaat secara cepat.

Pengolahan data pun menjadi sangat penting. Karena itu pula profesi data saintis menjadi vital. Tanpa profesi tersebut, satu industri atau perusahaan atau siapa pun tak akan memenangi ‘perang’ pada era disrupsi ini. “Data Saintis menjadi profesi yang sedang dan akan terus berkembang pesat pada tahun-tahun ke depan,” ungkap Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII Dr R Teduh Dirgahayu, di kampus setempat, Senin (4/6).

Menanggapi belum berkembangnya laju jumlah data saintis dibandingkan laju pentingnya analisa big data, Magister Teknik Informatika PPs FTI UII pun membuka konsentrasi Sains Data. “Kami membuka mulai tahun akademik ini. Dan sepertinya ini merupakan konsentrasi keilmuan kali pertama yang dibuka di Indonesia untuk tingkat magister,” tutur Teduh kemudian.

Mengedepankan analisis data, tentu Teknik Informatika tidak bisa berjalan sendiri. Karena itulah, untuk membuka konsentrasi Sains Data itu, mereka menggandeng Program Studi Statistik FMIPA UII. “Ini menjadi bukti, satu disiplin ilmu tidak bisa berjalan sendiri. Statistik butuh informatika. Begitu pula sebaliknya,” ujar Kaprodi Statistik FMIPA UII, Dr R Bagus Fajriya Hakim.

Untuk dapat menganalisis big data, tandas Bagus, diperlukan para profesional dengan kompetensi sains data yang memadai. Pada 2026 Amerika membutuhkan 11,5 juta data saintis. IBM pun mengkonfirmasi peningkatan kebutuhan profesional big data hingga 700 ribu orang pada 2020. “Di Indonesia pun kebutuhan data sainstis meningkat tajam. Sayang, pasokan profesional big data masih sangat kurang. Melalui pendidikan formal maupun informal,” katanya.

Seorang profesional big data diharapkan memiliki kompetensi yang kuat di bidang komputasi, statistik, dan pemrograman. Pemahaman terhadap ranah aplikasi akan memampukannya memaknai pemahaman mendalam yang dia peroleh dari hasil analisis. Selain itu, berkomunikasi menggunakan visualisasi data merupakan kemampuan yang juga wajib dimiliki. “Seperti itulah harapan lulusan konsetrasi Sains Data kami kelak,” tegas Teduh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan