Ini Satu-satunya FK Fokus Kebencanaan

FK UAD: (kiri-kanan) Kaprodi Pendidikan Kedokteran FK UAD Junaidy Heriyanto, Wakil Rektor II UAD Safar Nashir, Rektor UAD Kasiyarno, Dekan FK UAD Rusdi Lamsudin, Wakil Rektor I UAD Muklas, Kepala Bagian Admisi Wahyu Widyaningsih menjelaskan seputar pembukaan FK UAD, kepada wartawan, di kampus setempat, Rabu (18/4).

FK UAD: (kiri-kanan) Kaprodi Pendidikan Kedokteran FK UAD Junaidy Heriyanto, Wakil Rektor II UAD Safar Nashir, Rektor UAD Kasiyarno, Dekan FK UAD Rusdi Lamsudin, Wakil Rektor I UAD Muklas, Kepala Bagian Admisi Wahyu Widyaningsih menjelaskan seputar pembukaan FK UAD, kepada wartawan, di kampus setempat, Rabu (18/4).

JOGJA – Menanti hampir empat tahun akhirnya UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta memiliki FK (Fakultas Kedokteran). Berbeda dengan FK universitas lain, FK UAD fokus mendidik mahasiswanya ahli menangani kegawat-daruratan saat terjadi bencana. Meski paling mahal dibandingkan program studi yang lain, namun rektor mengklaim biaya kuliah FK di UAD masih paling murah dibandingkan FK perguruan tinggi lain.

“Melalui kajian dan pengalaman di lapangan selama ini, akhirnya kami memutuskan untuk fokus pada kebencanaan. Dan ini menjadi satu-satunya di Indonesia. Belum ada fakultas kedokteran lain yang mengajarkan kegawat-daruratan bencana sejak semester awal,” ungkap Dekan FK UAD Prof Dr dr Rusdi Lamsudin SpS(K) MMedSc, kepada wartawan, di kampus setempat, Rabu (18/4).

Pengalaman saat terjadi bencana gempabumi di Bantul beberapa tahun silam, banyak korban yang hingga kini mengalami kecacatan permanen karena keliru saat penanganan pertama. “Meski dalam kondisi panik, tapi tidak boleh penanganan pertama justru menambah parah kondisi korban. Karena itu dibutuhkan dokter-dokter yang memahami prosedur penanganan kebencanaan,” ujar Rusdi.

Begitu pula untuk bencana yang lain, misalnya bencana gunungapi, tanah longsor, banjir, dan lain-lain tentu memerlukan dokter yang memahami betul tindakan medis yang harus diambil saat kali pertama. “Karena UAD milik Muhammadiyah, kami juga akan mendidik mahasiswa menjadi dokter-dokter yang islami nantinya,” papar Rusdi kemudian.

Biasanya, timpal Kaprodi Pendidikan Kedokteran FK UAD, dr Junaidy Heriyanto SpB Firocs, keterampilan kegawat-daruratan diberikan setelah mahasiswa lulus melalui semacam pendidikan singkat. “Namun di UAD ini pengetahuan tentang itu kami berikan sejak mahasiswa berada di semester awal. Nantinya juga akan ada sertifikasi sebagai kompetensi mahasiswa,” jelasnya.

UAD bersikeras dan berjuang keras untuk mengantongi ijin menyelenggarakan pendidikan kedokteran, menurut Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum, salah satunya karena masih adanya anggapan suatu perguruan tinggi belum bisa dikatakan besar jika belum memiliki fakultas kedokteran. “Selain masih menjadi impian banyak perguruan tinggi, peminat untuk masuk ke fakultas kedokteran pun masih tinggi,” katanya.

Bukan hanya karena alasan itu jika kemudian UAD merasa puas telah memiliki fakultas kedokteran. “Lika-likunya sangat kompleks tapi menantang. Mulai dari persyaratan hingga fasilitas yang harus dibangun. Dan untuk menjadi unggul, kami membangun berbagai fasilitas seperti laboratorium dengan standard tertinggi. Paling tidak, melebihi dari yang dimiliki fakultas kedokteran perguruan tinggi lain,” tutur Kasiyarno tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Kepala bagian Admisi UAD, Dr Wahyu Widyaningsih MSi Apt memaparkan, FK UAD mulai menerima pendaftaran pada tahun akademik 2018/2019 ini dengan kuota jumlah mahasiswa 50 orang. Biaya kuliah berkisar Rp 18-19 juta per semester. Untuk pendaftaran awal gelombang I Rp 160 juta, gelombang II Rp 180 juta, dan gelombang III Rp 200 juta. “Antusiasme masyarakat cukup besar. Pendaftaran baru dibuka dua hari, sejak 16 April 2018, sudah ada dua puluh empat orang yang mendaftar,” ungkapnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan