Ini Syarat Agar Konflik Sosial Teratasi

Kader Satria: Guru besar FIB UGM, Prof Dr Irwan Abdullah, berbicara di hadapan peserta pelatihan bagi kader PD Satria DIJ, di Jogjakarta, Minggu (22/4).

Kader Satria: Guru besar FIB UGM, Prof Dr Irwan Abdullah, berbicara di hadapan peserta pelatihan bagi kader PD Satria DIJ, di Jogjakarta, Minggu (22/4).

JOGJA – Konflik sosial bangsa ini semakin hari semakin tajam. Terlebih menghadapi tahun politik ini. Tak terkecuali Jogjakarta yang adem ayem bahkan sering disebut-sebut sebagai wilayah dengan tingkat toleransi tinggi. Meski, potensi konflik tetap saja ada. Jogja memang istimewa. Heterogenitas masyarakat sangat tinggi. Hampir semua suku di Indonesia, ada di Jogjakarta. Tapi, hampir tak pernah ada konflik.

“√Ąda situasi kondisi di Jogjakarta yang tak dimiliki daerah lain sehingga konflik di Jogjakarta bisa diredam. Harus diakui Jogja memang istimewa,” ungkap guru besar FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UGM, Prof Dr Irwan Abdullah, saat berbicara di hadapan peserta pelatihan kader PD (Pimpinan Daerah) Satria (Satuan Relawan Indonesia Raya) DIJ, di Jogjakarta, Minggu (22/4).

Budaya Jawa di Jogjakarta, lanjut Irwan, masih sangat kental dan kuat. Budaya itu yang mengikat warga masyarakat Jogja, apapun latar belakang sukunya. Beda dengan daerah lain yang tidak memiliki satu budaya yang kuat. Konflik gampang meletus di daerah-daerah semacam itu. “Sayang sekali filosofi Jawa, filosofi wayang tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Sebenarnya penting untuk menguatkan rasa sosial siswa,” katanya.

Begitu pula tata-sosial yang dimiliki kraton, yang sangat khas. Mestinya juga disosialisasikan sehingga generasi muda memiliki prespektif Jawa ketika harus menyikapi berbagai persoalan di masyarakat. “Para siswa sekarang ini lebih banyak menerima pelajaran yang bersifat nasional. Padahal, kearifan lokal sangat penting agar mereka tidak tercerabut dari akar kehidupannya,” tandas Irwan.

Jogjakarta, menurut Irwan, juga daerah yang banyak memiliki sumberdaya manusia yang pintar tapi pandai mengelolanya. Hanya Jogja satu-satunya daerah yang beberapa pejabatnya tidak harus putera daerah. “Misalnya bupati Sleman, bisa saja berasal dari Bangka. Begitu pula rektor UGM. Bisa berasal dari mana saja. Bahkan gubernur pun bisa dengan enak mengangkat pejabat tanpa memandang latar belakang daerahnya,” papar Irwan.

Kearifan-kearifan lokal seperti itu yang mestinya dipertahankan. Bukan hanya menyangkut tata sosial, tapi misalnya juga menyangkut kepemimpinan. Ada filosofi kepemimpian yang sangat bagus di Minang. Juga misalnya ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, itu merupakan ajaran yang semestinya dipahamkan benar kepada generasi muda.

Melalui pemahaman kearifan-kearifan lokal semacam itu, konflik sosial akan bisa diredam. “Melalui kearifan lokal, generasi muda bisa belajar tentang toleransi, tentang kepemimpinan, tentang tata sosial, dan banyak hal lain. Jika bekal itu sudah benar-benar tertanam dalam jiwa dan pikiran mereka, saya meyakini konflik sosial yang semakin menajam seperti sekarang ini bisa diredam,” tutur Irwan lebih jauh.

Ketua PD Satria DIJ, Donny Ardana mengemukakan, pelatihan bagi para kader tidak akan berhenti atau hanya diselenggarakan sekali. “Berikutnya masih akan ada lagi pelatihan-pelatihan serupa, dengan tema berbeda-beda. Akan kita bikin berseri hingga Februari 2019 mendatang,” ujar pucuk pimpinan organisasi sayap Partai Gerindra itu.

Diikuti sedikitnya 50 orang setiap pelatihan, Donny pun mengharapkan, para kader nantinya akan mengenal betul wilayahnya. Dalm hal ini DIJ dengan segala keistimewaannya. “Apa jadinya jika calon legislatif Gerindra tidak memahami seluk-beluk daerah atau wilayah yang diwakilinya. Karena itulah kami menggelar acara yang rencananya secara berseri ini, dengan narasumber yang kompeten di bidangnya,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan