Ini Syarat Baru IMB Kota Jogja

Wakil Walikota Jogjakarta Heroe Poerwadi

Wakil Walikota Jogjakarta Heroe Poerwadi

JOGJA – Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kini pemkot (pemerintah kota) Jogjakarta menuntut syarat baru bagi pemohon Surat IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Selain syarat yang sama seperti sebelumnya, kini ada satu syarat tambahan. Bangunan yang hendak dibangun harus ramah bagi penyandang disabilitas.

“Sebagai rumusan lengkap, saat ini raperda tentang penyandang disabilitas sedang dalam pembahasan pansus di DPRD Kota Jogja,” ungkap Wakil Walikota Jogjakarta, Heroe Poerwadi, di balaikota setempat, Senin (22/10), berkaitan dengan lokakarya untuk mendorong partisipasi kelompok rentan pada pembangunan inklusif.

Sebagaimana semboyan di seluruh dunia City for All, lanjut Heroe, saat ini kota Jogja terus berbenah hingga kelak menjadi kota inklusi. Paling tidak, ada pelayanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan, yang ramah bagi para penyandang diasabilitas.

Jadi bukan hanya pembangunan sarana prasarana secara fisik, tapi menyangkut pula kebijakan dan aturan, harus ramah terhadap penyandang disabilitas. “Bahkan sejak perencanaan, kami sebisa mungkin melibatkan para penyandang disabilitas,” tandas Heroe.

Sebenarnya pemkot Jogja tak hanya memperhatikan kelompok penyandang disabilitas, tapi ada lima kelompok masyarakat yang masuk ke dalam kebijakan afirmatif. Selain kelompok penyandang disabilitas, kelompok lainnya adalah kelompok miskin, kelompok perempuan, kelompok anak, dan kelompok lansia.

Kendati begitu, tidak ada target tertentu untuk menjadi kota inklusi karena selalu ada perubahan maupun hal baru menyangkut status sebagai kota inklusi. “Seperti halnya kota pedestrian, kota hijau, bahkan kota pintar, semuanya selalu berubah secara dinasmis. Begitu pula pengembangan bagi penyandang disabilitas akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu,” tutur Heroe.

Secara fisik, hampir semua bangunan publik milik pemkot Jogja saat ini telah ramah terhadap penyandang disabilitas. Tinggal bangunan milik swasta yang belum semuanya ramah terhadap penyandang disabilitas. “Karena itulah untuk memperoleh Surat IMB untuk bangunan baru sekarang ini pemkot Jogja mensyaratkan harus ramah terhadap penyandang disabilitas,” papar Heroe kemudian.

Mengenai lokakarya yang digelar Selasa (23/10), di salah satu hotel di Jogjakarta, akan diikuti tak kurang dari 80 orang peserta yang saat ini sudah konfirmasi dari 100 orang yang diundang. Mereka berasal dari 13 kota dan saat ini panitia masih menunggu konfirmasi 17 kota lain yang diundang.

“Melalui lokakarya nasional itulah kami akan bisa saling belajar, saling tukar pengalaman terkait dengan best practices menyangkut penyandang disabilitas. Akan dibacakan pula Deklarasi Jogjakarta, yang pada intinya berisi tentang dorongan untuk memberikan akses bagi kelompok rentan terhadap pembangunan inklusif,” tegas Heroe. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan