IPM Kota Jogja Tertinggi Se Indonesia

Kepala BPS Kota Jogjakarta, Hardjana.

Kepala BPS Kota Jogjakarta, Hardjana.

JOGJA – Dibandingkan kabupaten dan kota lainnya, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Kota Jogjakarta menduduki peringkat tertinggi se Indonesia. Kota Jogja mampu mengungguli Kota Jakarta Selatan, Banda Aceh, Denpasar, dan Kabupaten Sleman. Sedangkan untuk daerah tingkat satu, DIJ berada di peringkat kedua setelah DKI Jakarta.

“Peringkat itu berdasarkan itung-itungan Badan Pusat Statistik secara nasional. Bukan atas prakarsa daerah sehingga peringkat itu tidak direkayasa,” ungkap Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Jogjakarta, Hardjana, di kantor Kominfo dan Persandian Kota Jogjakarta, Selasa (19/12).

Kota Jogja untuk IPM 2016 masuk kategori tinggi dengan nilai 85,32 pada skala 0-100. Sedangkan IPM Jakarta Selatan 83,94; Banda Aceh 83,73; Denpasar 82,58; dan Kabupaten Sleman 82,15. Untuk DIJ 78,38. Dan angka IPM nasional 70,18. “Jadi, IPM Kota Jogja lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ini mencerminkan keberhasilan pembangunan oleh pemkot Jogjakarta,” tutur Hardjana.

IPM yang menjelaskan tentang tingkat kesejahteraan masyarakat, itu lanjut Hardjana, merupakan indeks yang diukur berdasarkan multi dimensi. Beberapa dimensi pengukuran yang dipakai, meliputi angka harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per kapita.

Untuk angka harapan hidup di Kota Jogjakarta, berada pada angka 74,30. Harapan lama sekolah 16,81. Rata-rata lama sekolah 11,42. Serta pengeluaran per kapita Rp 17.770. “Artinya berdasarkan dimensi kesehatan, pendidikan, dan pendapatan, Kota Jogja masih menang dibandingkan kabupaten dan kota lain,” papar Hardjana.

Jika dibandingkan dengan capaian empat tahun sebelumnya, IPM di Kota Jogjakarta juga menunjukkan tren meningkat. Pada 2012 hingga 2015, IPM Kota Jogjakarta berturut-turut 83,29; 83,61; 83,78; dan 84,56. “Jadi, boleh dikatakan, pembangunan di Kota Jogjakarta ini dilakukan secara konsisten. Terus meningkat,” tandas Hardjana.

Penghitungan IPM tersebut, menurut Hardjana, sudah menggunakan metodologi baru. Perubahan metodologi penghitungan IPM dilakukan karena beberapa indikator dianggap sudah tidak pas. “Keunggulan IPM dengan metode baru, perhitungannya lebih tepat dalam mengukur kualitas manusia saat ini.”

Angka lama sekolah dan harapan lama sekolah dapat memberi gambaran lebih relevan dan tepat tentang perkembangan pendidikan maupun perubahannya. Sedangkan PDB (Produk Domestik Bruto) digantikan PNB (Produk Nasional Bruto), sebab dianggap lebih menjelaskan dengan pas pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan