IPNU Harus Jadi Garda Depan Deradikalisasi

IMG_20170315_180819
  Romahurmuziy (kiri) dan Asep Irfan Mujahid (kanan) memegang prasasti yang akan dipasang di makam pendiri IPNU Prof Dr KH Moch Tolchah Mansoer SH.
JOGJA – Ujaran kebencian dan segala macam paham keislaman yang tak sesuai dengan kondisi Indonesia makin hari makin merebak. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) harus berdiri di depan untuk menghilangkan semua itu. Salah satu cara yang akan ditempuh, masuk ke sekolah-sekolah guna menularkan paham melawan radikalisasi.
“Saatnya IPNU memberikan kontribusi signifikan guna menyebarkan paham Islam yang moderat,” tutur Ketua Umum PPP Romahurmuziy, di sela ziarah ke makam pendiri IPNU Prof Dr KH Moch Tolchah Mansoer SH, di Jogjakarta, Rabu (15/3).
Setelah semalam sebelumnya menggelar dialog kebangsaan, segenap pengurus pusat IPNU beserta sejumlah alumni siang itu melakukan ziarah ke pendiri IPNU yang juga ayah Romahurmuziy, sebagai salah satu rangkaian kegiatan memperingati harlah (hari lahir) ke-63 IPNU.
Romahurmuziy yang juga menjadi narasumber pada dialog kebangsaan itu menyampaikan pentingnya revitalisasi peran santri dan pelajar guna menyikapi ujaran kebencian yang makin marak, bukan saja dalam kaitan dengan penyelenggaraan pilkada saat ini tapi sejak pilpres 2014 lalu.
“Semua pihak harus bisa menahan diri sehingga masyarakat tidak menjadi bingung, mana yang fitnah, propaganda, atau mana yang fakta. Ada yang mencoba menggoyang kesatuan kita yang telah dibangun para pendiri bangsa dengan berdarah-darah itu,” katanya.
Karenanya, ujar Romahurmuziy kemudian, IPNU harus lebih aktif memberikan kontribusi secara signifikan guna menyebarkan paham Islam yang moderat. “Terus pegang prinsip intelektual seperti yang diajarkan KH Tolchah Mansoer,” tandasnya.
Ketua Umum PP IPNU, Asep Irfan Mujahid, menyambut baik saran Romahurmuziy. “Kami siap bergerak sesuai tugas dan tanggungjawab yang ada. Pun, militansi kader harus dibarengi dengan penguatan intelektualisme,” ujarnya.
Melalui berbagai kegiatan, lanjut Asep, IPNU akan mencoba masuk ke sekolah-sekolah umum, ke kegiatan kerohanian mereka. “Paling tidak, kami akan mencoba membendung masuknya berbagai paham Islam yang tak sesuai dengan kondisi Indonesia,” tuturnya lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan