Ironis, Negeri Air Tanpa Wisata Sungai

Wisata Sungai: Koordinator Kopertis Wilayah V DIJ, Bambang Supriyadi, menyampaikan makalah utama pada seminar tentang wisata sungai, di kampus Stipram Jogjakarta, Kamis (22/2).

Wisata Sungai: Koordinator Kopertis Wilayah V DIJ, Bambang Supriyadi, menyampaikan makalah utama pada seminar tentang wisata sungai, di kampus Stipram Jogjakarta, Kamis (22/2).

JOGJA – Indonesia merupakan negara tropis. Negara kepulauan dengan unsur air lebih banyak ketimbang daratan. Termasuk sungai yang jumlahnya lebih dari 400. Jumlah yang sangat potensial untuk dijadikan wisata air, atau wisata sungai. Sayang, kesadaran terhadap keberadaan dan pentingnya sungai untuk kepariwisataan masih sangat kurang. Perlu segera dibenahi agar potensi itu tak terbuang percuma.

“Tak perlu membangun sarana maupun prasarana yang neka-neka. Asal air sungai itu bersih, mengalir dan kedalamannya mencukupi, otomatis wisatawan akan datang sendiri. Lebih bagus jika ditambah pemandangan yang asri. Misalnya, warga setempat menjadikan sungai sebagai halaman depan,” ujar pakar pariwisata UGM, Prof Wiendu Nuryanti PhD, di sela The First Stipram Conference on Ecotourism 2018, di auditorium kampus Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo), Jalan Lingkar Timur Jogjakarta, Kamis (22/2).

Dengan membangun kesadaran warga serta memahami karakter sungai, maka sungai akan indah dengan sendirinya tanpa harus menambahi hal-hal baru yang kemungkinan malahan akan menjadikan pemandangan sungai tak akan natural lagi. “Termasuk kesadaran untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah maupun limbah rumahtangga,” tutur Wiendu yang pernah menjadi wakil menteri pariwisata itu.

Pada seminar bertajuk Recent Advances on Ecotourism: Toward Sustainable Tourism, itu Kepala Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah V DIJ, Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA mengemukakan beberapa kendala jika sungai akan dijadikan sebagai objek wisata. “Antara lain, fluktuasi muka air saat banjir atau saat kering, kurangnya investor, kurangnya usaha pemberdayaan sungai sebagai objek wisata, serta kendala seputar inovasi wisata air,” tandasnya.

Jika memang menginginkan sungai sebagai objek wisata, Bambang mengharapkan, adanya kesadaran dan minat dari pemda maupun dinas pariwisata setempat, investor, perguruan tinggi bidang pariwisata, hingga kesadaran dan minat dari asosiasi profesi atau perhimpunan bidang pariwisata. Tak lupa, ia pun menggambarkan beberapa sungai di negara lain, seperti sungai Seine di Paris, sungai Thames di London, bahkan kanal Giethoorn di Belanda, yang ditata apik dan dijadikan sebagai objek wisata.

Indonesia, paling tidak, pun memiliki sungai-sungai besar yang sangat potensial dan tersebar di beberapa daerah. Bambang mencontohkan sungai Kapuas sepanjang 1.143 kilometer, Mahakam (920), dan Barito (900) di Kalimantan, Batanghari (800) dan Musi (750) di Sumatera, Mamberamo (670) di Papua, serta Bengawan Solo (548) di Jawa. “Sungai-sungai itu memiliki prospek sebagai objek wisata asalkan dikemas secara baik,” tuturnya kemudian.

Ketua Stipram, Suhendroyono menyatakan, manajemen air di Indonesia masih dikesampingkan. Padahal, negara ini negara tropis, negara air, negara kepulauan. Bahkan perbandingan antara daratan dan air di dunia ini 30:70 tapi seperti gajah di pelupuk mata tak nampak, sebagian besar para peneliti hanya fokus pada perkembangan IT. “Kehidupan manusia dan alam, terutama menyangkut air, masih belum disentuh,” katanya.

Undang-undang sungai, lanjut Suhendroyono, pun tak memuat adanya sanksi. Yang ada hanyalah larangan untuk tidak mengotori sungai. Di sisi lain, kita semua sibuk dengan kemacetan jalan tapi tak memikirkan transportasi air. “Kami mengharapkan, forum kecil selama dua hari yang akan membahas tak kurang dari lima puluh delapan artikel ilmiah ini bisa mengunggah kesadaran kita semua mengenai pentingnya air,” tegasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan