Islam Pandalungan Berciri Penuh Warna dan Damai

IMG_20170119_180353
JOGJA (jurnaljogja.com) – Berdasarkan riset lapangan yang dilakukan di kalangan komunitas Muslim,  daerah Pandalungan sebagai sebuah budaya tidak hanya suatu bentuk budaya hibrida, di mana ia merupakan budaya baru yang muncul dari interaksi dua budaya dominan, Jawa dan Madura, tetapi juga merupakan suatu bentuk budaya multicultural.
“Karena,  baik masyarakat Jawa maupun Madura di daerah tersebut masih tetap mempertahahankan budaya mereka masing-masing,”  kata Fazlul Rahman, Lc, M.A.Hum saat mempertahankan disertasinya untuk meraih derajat doktor dalam Ilmu Inter Religious Studies di Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta, Selasa (17/1).
Dalam disertasinya berjudul “Contestation For Authority: Internet and Islam Among Pandalungan Kiais” disebutkan, karakteristik unik yang dimiliki Pandalungan ini kemudian memunculkan jenis Islam Pandalungan yang berciri penuh warna dan damai pada saat yang sama. “Masyarakat Pandalungan memiliki dua capital penting: cultural da relijius,” sebutnya.
Kedua capital inilah, disebut  Fazlur Rahman, yang kemudian turut mempengaruhi artikulasi mereka mengenai inernet dalam kehidupan. Penelitiannya juga menyimpulkan bahwa agama tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada saat penentuan apakah akan menerima media (baca: internet) atau menolak. Akan tetapi masyarakat terlihat masih lebih mementingkan pertimbangan keagamaan dari nilai-nilai culural yang mereka miliki ketika meraka mengartikulasikan media.
Promovendus menyampaikan,  secara historis, Islam memiliki hubungan baik dengan media. Media selalu menjadi bagian dari Islam sejak wahyu pertama diturunkan oleh Tuhan. Karena Islam dapat difahami sesungguhnya sebagai media itu sendiri. Namun sejarah perkembangan selanjutnya, media ternyata tidak terlalu diterima dengan hangat oleh masyarakat Muslim, khususnya oleh kalangan utama.
Beragam investigasi akademik dilakukan oleh para sarjana untuk memahami akar dari sikap kehati-hatian terhadap media tersebut. Penelitian ini berpendapat, sesungguhnya secara historis sikap tersebut berakar pada tiga alasan utama. Pertama, preferensi Muslim terdahulu terhadap tradisi oral. Kedua, teologi keIslaman yang phobia terhadap ikon (iconophobia) terakhir, warisan kepercayaan atas kesakralan bahsa Arab.
Menurutnya, ketiga alasan tersebut sesungguhnya bermuara pada satu  isu, yaitu otoritas keagamaan. Tumbuh kecemasan yang semakin meningkat bahwa media akan mengambil alih otoritas kalangan ulama. Bahwa, media akan merendahkan kehebatan dan keindahan bahasa Arab. Bahwa, media secara teologis akan menyebabkan hilangnya keberkahan Tuhan.
Meski demikian, studi komparasi terhadap fenomena  Wali Songo menunjukkan fakta berbeda. Wali Songo yang terkenal dengan kesuksesan mereka dalam mengIslamkan seluruh Jawa, justru menggunakan media sebagai metode dakwah mereka.
Fakta ini kemudian menuntun disertasi ini untuk menyimpulkan bahwa budaya setempat yang berbeda di mana para pendakwah/pemimpin agama/ulama melakukan dakwah mereka, akan memberikan sikap yang juga berbeda terhadap media. Hal ini mengkonfirmasi pentingnya faktor budaya, di atas faktor-faktor yang ada lainya dalam menentukan keputusan akhir dalam menerima atau tidak menerima media. (bam/rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan