Istilah “Berkemajuan” Identik Gerakan Muhammadiyah

IMG_20160827_225440

 Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja
Din Syamsudin berbicara di forum Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XIII di Sportarium UMY Jogjakarta Sabtu (27/8).
 
JOGJA (junaljogja.com) – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menyebut istilah “berkemajuan” sudah identik dengan gerakan Muhammadiyah. Sudah tidak berada pada tataran konsep. Bukan lagi bersifat teoritis, normatif dan konsepsional, namun menjelma dalam bentuk gerakan atau aksi, seperti terjadi pada Muahammadiyah.
Demikian dalam Muktamar Nasyiatul Aisyiyah  XIII di Sportorium UMY, Sabtu (27/8). Dalam kesempatan itu ia pesan pada muktamirin Nasyiatul Aisyiyah akan pentingnya mengubah organisasi menjadi gerakan.
Menurut ia, Istilah berkemajuan jika dikaitkan dengan gerakan, mengandung arti lebih dari sekedar maju. Kata maju sendiri sudah mengandung konotasi dinamis, lalu ditambah imbuhan ber-dan akhiran –an. Maka, berkemajuan bukan lagi sekedar maju, namun disertai dengan proses. “Jika dibuat garis  tidak rata, namun mendaki ke atas,” jelasnya.
Sedangkan gerakan adalah sekelompok manusia yang tertinggi, di atas organisasi dan paguyuban. Gerakan levelnya sudah di atas organisasi, maka jika Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyah sudah memakai istilah gerakan. Maka hendaknya jangan main-main. Para kadernya juga harus melebihi sebuah organisasi.
Din menyampaikan, sebuah organisasi dinilai melakukan gerakan jika dia bergerak menuju tujuannya secara sistematis dan dinamis. Muhammadiyah contohnya adalah sebuah organisasi yang mengenal persyarikatan, yaitu yang menunjukkan kebersamaan antar elemen baik secara vertikal dan horizontal. Namun demikian Muhammadiyah juga merupakan gerakan yang praksis, yaitu yang menggabungkan ide dan aksi.
Dalam Muktamar Nasyiatul Aisyiyah kali ini para muktamirin Nasyiatul Aisyiyah mengembangkan gerakan ilmu, selain gerakan dakwah yang sudah dilakukan Muhammadiyah.  “Saya kalau tidak salah menangkap, Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ini akan membentuk gerakan ilmu. Jika hal itu benar adanya, maka ide itu bagus. Bahwa gerakan ilmu dibawa oleh Nasyiatul Aisyiyah, maka Nasyiatul Aisyiyah harus bertanggung jawab dan  tampil paling depan untuk menampilkan diri sebagai insan cendekia,” harapnya.
Dengan semangat gerakan ilmu tersebut, lanjut Din,  Nasyiatul Asiyah tidak bisa lepas membahas dua hal yaitu kecendekiaan dan  daya inovasi. Karena keduanya menjadi dua potensi manusia yang sangat penting. Kecendekiaan berhubungan dengan ilmu, sementara daya inovasi adalah hasilnya. “Jadi, ketika kita mengembangkan dua hal tersebut, kita mengembangkan kemampuan insani diri kita, yaitu kemampuan yang sudah ada  dalam diri manusia,” ujarnya. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan