Jack Tampilkan Mahar Politik Di Atas Kanvas

Pameran: Purnawirawan TNI AU, Pak Jack, menggelar pameran lukisan wayang, di Galeri Ulam Tirta Jogjakarta, Juli - Agustus 2018.

Pameran: Purnawirawan TNI AU, Pak Jack, menggelar pameran lukisan wayang, di Galeri Ulam Tirta Jogjakarta, Juli – Agustus 2018.

JOGJA – Demi kedudukan dan kekuasaan, manusia harus rela berkorban. Tak sebatas mengorbankan harta benda, saudara pun bisa dijadikan korban. Demikian diungkapkan Marsekal Muda (Marsda) TNI (Purn) Sudjadijono, pelukis wayang asal Jogjakarta, yang dikenal pula dengan panggilan Pak Jack.

Pak Jack menggelar pameran lukisan, di Galery Ulam Tirta Resto & Rest Area, Jalan Tegal Turi 2 Giwangan, Umbulharjo, Jogjakarta, selama Juli – Agustus 2018. Ada delapan lukisan yang dipajang. Antara lain bertajuk Mahar Politik.

Jack sengaja menampilkan Mahar Politik untuk ikut meramaikan tahun politik saat ini menjelang pileg dan pilpres. Mahar Politik menceritakan kisah tokoh wayang Suwondo (Sumantri) ketika mencari kedudukan di Negeri Maespati. “Dalam meraih cita-citanya menjadi patih, Suwondo harus rela berkorban. Bahkan sampai membunuh adiknya Sukrosono yang memiliki tampang jelek. Dan tercapailah hajat menjadi Patih Maespati, meski akhirnya Suwondo menyesali perbuatannya,” kisahnya.

Mahar Politik merupakan karya lukis terbarunya tahun 2018 awal, berukuran 250 x 130 cm di atas kanvas dengan cat oil acrilic. Semua karya lukis Jack memang bertema wayang yang menceritakan kembali lakon Ramayana maupun Mahabharata. Kedua lakon tersebut merupakan cerminan perilaku kehidupan manusia di dunia.

“Ada dua perwatakan perilaku manusia di dunia ini. Angkara murka yang ingin menang sendiri, dengan perilaku adigang adigung adiguna, menghalalkan segara cara, menuruti hawa nafsunya dalam meraih tujuan. Perwatakan kedua, perilaku budi luhur, membela kebenaran, membela kaum teraniaya, melawan segala bentuk angkara murka,” tutur Jack kemudian.

Karya lukis wayang Jack sudah mencapai 200-an buah. Ia rutin menggelar pameran karena ingin nguri-uri kebudayaan. Ia ingin membumikan kisah pewayangan melalui media lukis kepada masyarakat dan generasi muda. “Cerita wayang itu sarat dengan budi pekerti, perilaku luhur yang mestinya menjadi dasar manusia di dunia.”

Pengelola Ulam Tirta, Ariyanto mengatakan, pihaknya ingin memfasilitasi para seniman untuk menggelar karyanya. Ulam Tirta memiliki space luas yang bisa untuk memajang karya lukis. “Dinding di area Ulam Tirta masih kosong. Kalau diisi dengan tampilan lukisan akan sangat bagus. Ini juga akan menjadi daya tarik wisatawan yang singgah.”

Selama setahun lebih keberadaan Ulam Tirta, sudah ribuan wisatawan dari berbagai daerah singgah makan di Ulam Tirta. “Setidaknya, tiap Jumat, Sabtu, Minggu, atau hari libur selalu dipadati puluhan bus wisata dari Jawa, Sumatera, dan tempat lainnya,” ujar Ariyanto. (yul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan