Jangan Remehkan Binatang Kecil Ini

Siput: Ahli pertanian asal Jepang Prof Saturo Sato memaparkan pentingnya keberadaan binatang siput di lahan pertanian padi, di kampus UMY, Senin (20/11).

Siput: Ahli pertanian asal Jepang Prof Saturo Sato memaparkan pentingnya keberadaan binatang siput di lahan pertanian padi, di kampus UMY, Senin (20/11).

JOGJA (jurnaljogja.com) – Petani di Indonesia menurut catatan BPS (Badan Pusat Statistik) saat ini hanya berjumlah 26 juta orang. Sebelumnya 31 juta orang pada 2003. Penurunan jumlah tersebut salah satunya dikarenakan hasil panen yang tidak bisa maksimal, sehingga mereka memutuskan untuk beralih profesi. Penurunan hasil panen juga terjadi akibat penggunaan pestisida yang tidak terkontrol.

Dibutuhkan solusi agar hasil panen bisa tetap meningkat, tanpa banyak menggunakan pestisida. “Para petani, khususnya petani padi, bisa kembali menggunakan hewan atau segala sesuatu yang berasal dari alam, misalnya siput, untuk mengurangi penggunaan pestisida,” ujar ahli pertanian asal Jepang, Prof Satoru Sato, dosen Yamagata University, Jepang, dalam kuliah umum Current Situationand Future Prospect of Agriculture in Japan: From an Ecologist Point of View, di Fakultas Pertanian UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Senin (20/11) lalu.

Sato menduga, salah satu yang menyebabkan jumlah petani di Indonesia menurun, karena penghasilan yang didapatkan dari bertani tidaklah banyak. “Sama seperti di Jepang. Penurunan jumlah petani salah satunya juga karena hasil yang didapatkan dari bertani tidak cukup. Karena itu saya menawarkan sebuah solusi, penggunaan siput dalam proses pertanian. Salah satunya pertanian padi,” saran Sato.

Penggunaan binatang kecil tersebut, lanjutnya, merupakan hasil dari penelitian yang telah dilakukannya di Jepang. “Penelitian menunjukkan, lahan pertanian padi yang di dalamnya terdapat siput mempunyai kondisi tanah yang cukup subur dan kondisi air yang bersih dibandingkan dengan lahan yang tidak terdapat siput di dalamnya,” jelas Sato

Kondisi tanah yang tidak ada siput di dalamnya, memiliki karakteristik yang kurang baik dan terdapat lumut pada kondisi airnya. “Kondisi tanaman padi yang ditemani siput sangat terlihat berbeda. Mulai dari warna daun yang lebih segar hingga biji padi yang lebih rimbun. Hasil pertaniannya juga lebih meningkat walaupun belum memenuhi target konsumsi yang dibutuhkan,” paparnya tanpa menyebutkan peningkatan hasil yang kemungkinan bisa diperoleh.

Bertemu dengan beberapa petani di Indonesia, Sato menyimpulkan, para petani sebenarnya mampu mengubah kehidupan mereka asal menggunakan teknik organik. Hanya saja, untuk menarik minat petani agar berganti ke teknik itu tidaklah mudah. Tak mau menanggung kerugian, petani baru akan percaya bila dapat melihat secara langsung proses bertani dengan menggunakan siput tersebut. “Karenanya, sosialisasi sangat penting sehingga masyarakat bisa sedikit demi sedikit beralih ke teknik bertani organik,” tandas Sato. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan