Jogja Harus Jadi Pusat Ziarah Muhammadiyah

Muhadjir Effendy

Muhadjir Effendy

JOGJA – Organisasi keagamaan Muhammadiyah lahir di Jogjakarta. Muncul gagasan menjadikan Jogjakarta sebagai pusat ziarah Muhammadiyah. Seperti halnya Jombang bagi Nahdlatul Ulama. Terlebih makam pendiri Muhammadiyah, KHA Dahlan pun berada di Jogjakarta.

“Menjadikan Jogja sebagai pusat ziarah, sekaligus guna mendukung mata pelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan yang kita ajarkan ke siswa-siswi Muhammadiyah,” ujar Mendikbud Muhadjir Effendy, yang juga Ketua PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, di Jogjakarta, Sabtu (29/12).

Sangat tidak elok, menurut Muhadjir, jika kemudian siswa-siswi Muhammadiyah tidak mengetahui asal-usul maupun cikal-bakal Muhammadiyah. “Untuk memberi pemahaman serta mengajarkan mata pelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan, jangan hanya sebatas teori maupun cerita. Karenanya pusat ziarah itu perlu ada sebagai bukti nyata,” tandasnya.

Di hadapan Sidang Senat Terbuka Milad Ke-58 UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, itu Muhadjir pun mengemukakan, alasan itu pula jika kemudian PP Muhammadiyah menempatkan Museum Muhammadiyah di Jogjakarta, di dalam kompleks Kampus 4 UAD. “Sesuai target, semoga Maret 2019 pembangunan museum tersebut selesai,” katanya.

Muhadjir pun mengingatkan, pengertian ziarah yang ia maksudkan berbeda dengan ziarah kubur seperti yang dipahami banyak orang. “Jika ziarah ke makam KHA Dahlan, bukan berarti kita meminta sesuatu. Tapi, semata mendoakan almarhum. Sekaligus menunjukkan kesederhanaan makam KHA Dahlan meski ia seorang tokoh besar,” tuturnya kemudian.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UAD Dr H Kasiyarno MHum, banyak mengemukakan mengenai perkembangan dan pencapaian prestasi universitas yang dipimpinnya hingga sekarang ini. Salah satunya keberhasilan membangun gedung perkuliahan 10 lantai di Kampus 4 atau Kampus Utama itu, yang menghabiskan dana hingga Rp 384,8 miliar lebih.

“Meski sudah membangun sepuluh lantai, tapi tetap pusing. Kami masih saja kekurangan ruangan untuk kuliah. Apalagi ada beberapa program studi baru di tahun akademik ini,” ujar Kasiyarno, yang juga menuturkan hingga saat ini jumlah mahasiswa di UAD telah mencapai sekitar 27.000 orang.

Kepala Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY, Bambang Supriyadi mengingatkan, agar UAD juga meningkatkan jumlah mahasiswa asing jika ingin disebut sebagai universitas tingkat dunia. “Jangan hanya sebatas menyelenggarakan perkuliahan menggunakan bahasa asing kemudian menyebut diri sebagai universitas berkelas internasional,” ujarnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan