Jogja Masih Jadi Magnet Seniman Tari Dunia

IMG_20160926_122637
(ki-ka) Bambang Paningron, Aria Nugrahadi, Putu Kertiyasa saat menjelaskan kepada wartawan, di kantor Dinas Pariwisata DIY, Kamis (22/9).
JOGJA – Sebagai Kota Budaya dan Pariwisata ternyata Jogja masih menjadi magnet bagi seniman tari dunia. Terbukti mereka sangat antusias mengikuti gelaran ‘Jogja International Street Performance 2016’, pada 25-26 September.
“Ini barangkali merupakan satu-satunya gelaran seni yang tak harus mengeluarkan beaya bagi artis penampil. Artinya, para seniman secara sukarela datang ntk naik panggung,” ujar pelaksana gelaran tersebut, Bambang Paningron, kepada wartawan, di kantor Dinas Pariwisata DIY, Kamis (22/9).
Panitia, lanjut Bambang, hanya menyediakan ‘fee’ yang tak seberapa tapi para seniman itu tetap menginginkan tampil pada gelaran tersebut. “Jogja yang masih dianggap sebagai magnet itulah yang mestinya ters dipertahankan. Sayangnya, kondisi itu seringkali tak disadari para pemangku kepentingan,” tandasnya.
Beberapa seniman tari asal mancanegara yang akan tampil, antara lain Oscar Abanu asal Australia; Gerard Mosterd (Belanda); Rina Takahashi, Jun Amanto, Namahage (Jepang); KoTPA/Korea Traditional Performing Arts (Korea); Lyn Hanis, Shahrin Johry (Singapura); dan Gamini Basnayake (Srilangka).
“Dari Indonesia akan datang dari beberapa daerah dan kota, antara lain dari Aceh, Bali, Bandung, Banyumas, Cirebon, Jakarta, Kalimantan, Lampung, Malang, Papua, Ponorogo, Solo, serta tentu beberapa dari Jogja sendiri,” tutur Paningron kemudian.
Melalui tema ‘Jogja the Dancing City’, panitia mengangankan Jogja tak hanya berhenti sekadar sebagai kota Budaya atau puas sebagai simbol semata namun mempraktikkannya, khususnya untuk seni tari. “Jumlah sanggar seni di Jogja sebenarnya cukup banyak hingga mencapai angka di atas ratusan. Sayang, mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan karya-karyanya,” keluh Paningron.
Pengembangan seni pertunjukan sulit dilakukan secara maksimal. “Ruang ekspresi yang tersedia di kota ini, termasuk dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, sangat terbatas sehingga dikhawatirkan bisa menghilangkan kreativitas para pekerja seni dalam membuat kegiatan berkesenian di kota Budaya ini,” ujar Paningron.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata DIY, Aria Nugrahadi mengakui, saat ini jumlah ruang ekspresi di lima kabupaten/kota di DIY masih minim. Baru ada sekitar 11 titik ruang ekspresi yang kebanyakan merupakan open theater. “Karena itulah kami akan memperluas kegiatan seni hingga 2017 mendatang. Selain itu melakukan pencermatan potensi seni sebagai daya tarik wisata,” katanya.
Kepala Seksi Promosi Dinas Pariwisata DIY, Putu Kertiyasa menambahkan, karena itulah digelar Jogja Intenational Street Performance yang tahun ini merupakan pelaksanaan kali keenam untuk memberikan wadah ruang ekspresi bagi para seniman dan pekerja seni.
Selama dua hari gelaran tersebut akan meliputi ‘public space performance’ dan ‘on stage performance’ di sepanjang jalur Jalan Mangkubumi dan Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. “Pilihan ruang publik merupakan sebuah upaya mendekatkan masyarakat pada kegiatan kesenian dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam berbagai segmen,” papar Paningron lebih jauh. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan