Jogja Tak Bisa “Dibeli” Industri Rokok

JOGJA (jurnaljogja) – Dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2016, Dinas Kesehatan DI Jogjakarta dan jaringan tobacco control setempat menggelar healthy run, senam dan flash mob serta lomba selfi di Alun-alun Utara, Jogjakarta, Sabtu (4/6). Kegiatan Jogja punya warna, run and change your color ini sebagai bentuk  dari gerakan orang muda yang ingin kotanya menjadi  bersih dan sehat, jauh dari intervensi industri rokok lewat iklan yang sangat begitu masif.
Ketua Quit Tobacco Indonesia Fakultas Kedokteran UGM, Dr Yayi Suryo Prabandari memprihatinkan naiknya jumlah perokok pemula usia 10-14 tahun di Indonesia yang mencapai 20 persen. Sedangkan perokok usia 15-18 tahun berdasar survei demografi kesehatan mencapai 70 persen (laki-laki) dan perempuan 8 persen. Sementara di Jogja sendiri angka perokok diakui lebih rendah. Usia 15-18 tahun, angka perokok teratur  di Jogja mencapai 30 persen (laki-laki) dan perempuan 5 persen.
Ia menunjukkan, akhir-akhir ini banyak sekali sudut kota Jogja yang branding oleh sebuah produk industri rokok dengan icon show your color. “Jogja tidak bisa diintervensi dan dibeli oleh industri rokok. Gerakan ini sebagai bentuk penolakan menjadi target dan suarakan kebenaran,” kata Yayi.
Melalui acara ini juga dideklarasikan dukungan generasi muda Jogja, terkait dengan HTTS, yang antara lain mendukung Presiden Jokowi untuk segera merativikasi frame work convention on tobacco control. Juga mendukung pemda dan provinsi menerapkan regulasi yang tegas terkait kawasan tanpa tokok. Selain itu mendukung pemda dan provinsi untuk membuat peraturan yang tegas dan ketat terkait dengan iklan, promosi serta sponsorship industri rokok.
Acara yang berlangsung meriah ini melibatkan organisasi mahasiswa, seperti BEM UGM, UMY, UII, jaringan pelajar SMA serta organisasi kepemudaan dan beberapa komunitas anak muda di Jogja yang peduli masalah pengendalian tembakau. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan