Jutaan Anak Tiroid Tak Diobati

JOGJA – Jutaan anak dengan gangguan tiroid di dunia tidak terdiagnosa dan tidak dIobati. Sebagian besar ibu menyadari, gangguan tiroid dapat terjadi pada anak. Sayangnya, sebagian besar ibu pun tidak mengetahui gejala gangguan tiroid sehingga tidak bisa mengenali gangguan tiroid pada anak.

“Kondisi itu cukup memprihatinkan karena kelainan tiroid yang tak segera ditangani akan mengakibatkan gangguan perkembangan otak, tumbuh-kembang, perilaku, kesulitan konsentrasi, serta gangguan kesehatan secara menyeluruh,” ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K), di Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu pula IDAI dan perusahaan sains dan teknologi terdepan, Merck, mendukung sepenuhnya PKTI (Pekan Kesadaran Tiroid Internasional) ke-8, pada 23-29 Mei 2916. Kampanye PKTI pun mereka gelar di SD Negeri Percobaan 2 Sleman, DIY, Sabtu (28/5) silam, diikuti beberapa orangtua murid.

Aman pun mengemukakan, terdapat dua kemungkinan terjadinya gangguan tiroid pada anak, gangguan tiroid bawaan sejak lahir, atau yang baru muncul seiring bertambahnya usia anak. Gangguan bawaan sejak lahir harus mendapat perhatian serius, Hipotiroid Kongenital, dapat mengakibatkan retardasi mental jika terlambat diobati.

Retardasi mental itu sesungguhnya bisa dicegah jika diketahui dan diobati sejak dini. Karenanya setiap bayi yang baru lahir perlu mendapatkan SHK (Skrining Hipotiroid Kongenital), pada 48-72 jam pertama kelahiran. “Jika terbukti mengalami Hipotiroid Kongential, pengobatan harus segera diberikan,” saran Aman.

PKTI 2016 mengambil tema ‘Waspada Gangguan Tiroid pada Anak’, bertujuan meningkatkan kesadarkan masyarakat, terutama orangtua untuk mengenali gejala gangguan tiroid pada anak. Kampanye dilakukan melalui cara yang mudah untuk dipahami seluruh anggota keluarga.

Pada kasus kelenjar tiroid yang kurang aktif, mempunyai gejala pertumbuhan yang lambat pada anak, mudah lelah, serta gerakan yang lamban. Sementara, yang memiliki kelenjar tiroid terlalu aktif, dengan gejala kurus, terlalu aktif, serta terlalu banyak bergerak.

Studi global oleh Merck pada Februari 2016 yang melibatkan 1.600 orang ibu di Eropa, Asia Tenggara, Amerika Tengah/Selatan, Afrika Selatan, dan Arab Saudi, antara lain memperlihatkan, 86 persen responden mengetahui gangguan tiroid dapat terjadi pada anak namun sayangnya 84 persen responden tidak mengenali gejala gangguan tiroid. Hasil untuk responden Indonesia menunjukkan 58 persen responden tidak mengetahui gejala gangguan tiroid.

“Kami berharap informasi yang diberikan melalui kampanye PKTI membuat orangtua dapat mengenali gejala gangguan tiroid pada anak, berkonsultasi dengan petugas kesehatan untuk deteksi dini, serta melakukan SHK pada bayi baru lahir, sehingga anak-anak Indonesia dapat bertumbuh kembang secara baik dan sehat,” tutur Direktur Biopharma PT Merck Tbk, Evie Yulin.
Kampanye PKTI itu pun didukung oleh kelompok ‘Pita Tosca’. “Misi kami memberikan dukungan psikologis kepada pasien serta memberikan informasi mengenai gangguan tiroid kepada masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat lebih waspada terhadap gangguan tiroid pada anak dan memberikan dukungan kepada kami,” ungkap penggagas ‘Pita Tosca’, Astriani Dwi Aryaningtyas. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan