Kampus Muhammadiyah Ini Tak Khawatirkan Cadar

Mahasiswi Bercadar: Rektor UAD Kasiyarno (kanan) dan Ketua LPSI UAD Anhar Anshori menjelaskan seputar mahasiswi bercadar di kampus tersebut, Jumat (9/3).

Mahasiswi Bercadar: Rektor UAD Kasiyarno (kanan) dan Ketua LPSI UAD Anhar Anshori menjelaskan seputar mahasiswi bercadar di kampus tersebut, Jumat (9/3).

JOGJA – Mahasiswi bercadar sedang menjadi pro kontra belakangan ini setelah sebuah perguruan tinggi Islam negeri di Jogjakarta mempermasalahkannya. Tapi bagi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, mahasiswi bercadar tidak menjadi masalah. Bahkan salah satu PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) itu tak mengkhawatirkannya. Jumlahnya sedikit, bisa dihitung dengan jari.

“Kami tak pernah melarang mahasiswi mengenakan cadar. Hanya memang mahasiswi harus berpakaian secara syar’i. Kalau pun muncul masalah, paling yang berkaitan dengan persoalan administrasi. Misalnya saat hendak ujian, pasti harus diperiksa lebih dulu kecocokan identitasnya,” jelas Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum, kepada wartawan, di kampus setempat, Jumat (9/3).

Pemeriksaan identitas sebelum ujian, lanjut Kasiyarno, pun dilakukan oleh dosen perempuan dan di ruang khusus. “Jika setelah itu mahasiswi bersangkutan akan mengikuti ujian dengan tetap bercadar, silakan saja. Kami tidak pernah melarang. Kecuali untuk fakultas pendidikan. Saat mahasiswa praktik lapangan untuk mengajar, kami melarang mereka mengenakan cadar,” jelasnya lebih jauh.

Ketua LPSI (Lembaga Pengembangan Studi Islam) UAD, Anhar Anshori menyatakan, sebagai salah satu PTM, UAD membawa misi Muhammadiyah yaitu inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan inovasi Islam. Pada 2003 pun telah disepakati UAD akan melakukan Islamisasi kampus. Salah satunya mengharuskan mahasiswi berpakaian secara syar’i. Dipertegas pada 2014, mahasiswi wajib mengenakan busana yang menutup aurat.

“Surat An Nur ayat 71 memang mewajibkan perempuan menutup aurat. Tapi menurut Nabi Muhammad SAW, muka dan telapak tangan boleh saja kelihatan. Tentu kewajiban busana syar’i, itu termasuk di dalamnya ketentuan busana yang tidak transparan, tidak ketat, dan tidak berlebihan. Di sisi lain kami mengerti tidak semua mahasiswa memiliki pemahaman yang komprehensif tentang agama. Banyak yang masih memahami secara sepotong-sepotong. Kami tidak pernah menganjurkan, apalagi memerintahkan mahasiswi mengenakan cadar. Tapi, kami juga tak pernah melarang,” papar Anhar kemudian.

Jumlah mahasiswi bercadar di UAD pun bisa dihitung dengan jari. Sangat sedikit. Kurang dari 0,5 persen dari total mahasiswa yang ada. “Dengan demikian UAD tidak pernah khawatir dengan mereka. Kami juga meyakini mereka yang bercadar itu karena pengetahuan mereka tentang agama masih belum komprehensif. Karenanya kami juga tidak memiliki strategi khusus untuk menangkal apa yang disebut radikalisme dan terorisme. Kami yakin tak ada mahasiswa maupun dosen yang seperti itu,” tutur Anhar kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan