Kamtis Puas Saksikan Film Endang Soekamti

IMG_20160901_204958
JOGJA (jurnaljogja.com) – Para Kamtis, sebutan untuk penggemar Endank Soekamti mengaku puas setelah menyaksikan langsung film dokumenter Endank Soekamti berjudul ‘Ngintip Soekamti’s 7th Album  ini diputar ddalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 28 di Taman Kuliner Condongcatur,  Sleman, DI Jogjakarta.
Film dokumenter garapan sutradara Erix Soekamti, menggambarkan proses rekaman album Soekamti Day dimana selama pembuatannya mereka dikarantina di sebuah pulau bernama Gili Sudak – NTB pada Februari 2016 lalu. ”Film ini pernah diputar secara terbatas pada para tamu undangan di malam peluncuran album tersebut,”  tutur Erix Soekamti, Kamis (1/9).
Namun kemarin malam, lanjut Erix Soekamti,  pada hari terakhir pelaksanaan program Bioskop FKY yang telah dimulai sejak 26 Agustus lalu, masyarakat luas khususnya para pengunjung FKY 28 dapat turut menikmatinya dalam acara pemutaran film berkonsep open air cinema.
Meski secara umum film ini adalah rangkuman dari webseries di YouTube dengan judul serupa. Tapi ada beberapa tambahan di film ini, yang sebelumnya tidak terdapat di webseries. Seperti komentar dari mereka yang terlibat langsung dalam pembuatan film ini, serta beberapa kejadian yang tidak masuk ke webseries karena dokumentasinya diambil setelah selesai masa proses rekaman album itu.
Meurutnya, pembuatan film  ini sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari aktivitas Endank Soekamti sebagai sebuah band. Ini dimulai sejak pembuatan film dari webseries hasil dokumentasi proses pembuatan album ke–5 yang berjudul “Angka 8”. Adapun karya terbaru Endank Soekamti di bidang film, setelah Ngintip Soekamti’s 7th Album, adalah Vlog Fest 2016 The Movie, sebuah film yang sampai saat ini bisa dinggap sebagai film panjang berformat 360˚. Yang pertama kali dirilis di dunia dan disebarkan secara gratis di situswww.vlogfest.com.
Alasan Endank Soekamti selain bermusik juga produktif membuat film, baik itu film panjang maupun film-film pendek yang dipublish di media sosial seperti YouTube, bukan karena band asli Jogjakarta ini sudah tidak fokus lagi di dunia musik. Namun, hal tersebut dilakukan karena sebagai sebuah band, sejak dulu Endank Soekamti membutuhkan media untuk menyampaikan dan mempublikasikan karya-karya mereka ke masyarakat. Sementara di  lain pihak, band-band seperti Endank Soekamti sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk tampil di media massa, seperti misalnya di televisi.
Karena itu, kata Erix, diputuskan untuk membuat konten sendiri yang disebarkan melalui media sendiri. Sehingga karya-karya Endank Soekamti dapat tetap dinikmati dan terhubung dengan masyarakat luas, khususnya para Kamtis. Menurutnya, semua yang dilakukan ini sebenarnya dalam rangka memenuhi kebutuhan Endank Soekamti sebagai sebuah band agar dapat terus bertahan, berkembang dan berkarya lebih baik lagi. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan