Kapolda DIJ Minta Mahasiswa Pariwisata Jadi ‘Polisi’

UKM Satma-Bhara: Ketua Stipram Suhendroyono dan Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri MSi berjabat tangan usai menandatangani nota kesepahaman pembentukan UKM Satma-Bhara, di kampus Stipram, Banguntapan, Bantul, DIJ, Rabu (17/1).

UKM Satma-Bhara: Ketua Stipram Suhendroyono dan Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri MSi berjabat tangan usai menandatangani nota kesepahaman pembentukan UKM Satma-Bhara, di kampus Stipram, Banguntapan, Bantul, DIJ, Rabu (17/1).

BANTUL – Pariwisata menjadi salah satu penerimaan devisa negara. Terlebih bagi Indonesia. Ketertiban dan keamanan menjadi salah satu prasyarat agar pariwisata membuahkan hasil yang baik. Dan perguruan tinggi memegang peran sentral dan penting. Karena itu mahasiswa pariwisata harus pula mampu berperan sebagai ‘polisi’. Paling tidak memahami peran polisi di masyarakat.

“Bukan berarti mahasiswa pariwisata harus benar-benar menjadi polisi namun setidaknya mampu memahami peran polisi. Terlebih persoalan ketertiban dan keamanan pun menjadi bagian dari butir-butir Sapta Pesona,” ujar Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri MSi, saat menyampaikan kuliah umum di hadapan 800 orang mahasiswa Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, di kampus setempat, Banguntapan, Bantul, DIJ, Rabu (17/1).

Sebelum menyampaikan kuliah umum, Kapolda DIJ menandatangani nota kesepahaman dengan Ketua Stipram Suhendroyono, berkaitan dengan pembentukan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Satma-Bhara. “Anggota Satma-Bhara nantinya tak sekadar menerima gemblengan fisik. Itu hanya bagian kecil saja. Yang lebih penting, memiliki softskill di bidang kepolisian,” tutur Dofiri.

Keamanan dan ketertiban yang menjadi bagian dari Sapta Pesona pariwisata, tandas Dofiri, merupakan filosofi tugas kepolisian. Karenanya, pembentukan UKM itu tidak keliru. “Terlebih perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi pariwisata, memiliki peran sentral. Antara lain karena akan menciptakan sumberdaya manusia yang andal, pusat riset yang unggul, serta mampu menjawab tantangan jaman.”

Selain menyampaikan seputar bahaya narkoba, efek negatif media sosial, serta intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang berpotensi mencerai-beraikan bangsa Indonesia, Dofiri juga mengajak segenap mahasiswa untuk cinta tanah air guna mewujudkan pariwisata nasional yang baik. “Cinta tanah air maupun bela negara tidak harus menjadi tentara atau polisi. Cukup menjalankan pengabdian secara baik sesuai profesi masing-masing. Termasuk Anda semua sebagai insan pariwisata,” tandasnya.

Suhendroyono mengemukakan, Indonesia merupakan negara pariwisata yang besar. Hanya saja, hingga saat ini belum membuahkan hasil yang bagus. “Banyak faktor yang menyebabkannya, sehingga kita harus kalah dengan negara lain yang sumber maupun potensi pariwisatanya tak sehebat Indonesia,” katanya.

Ia pun menyampaikan keprihatinannya Indonesia akhir-akhir ini banyak dirongrong berbagai persoalan yang mengancam kesatuan dan persatuan bangsa jika tak ditangani secara benar. Narkoba juga menjadi ancaman serius, terutama bagi generasi muda. “Karena itulah pada kuliah umum kali ini kami sengaja mengundang Kapolda DIJ,” papar Suhendroyono. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan