Karakter Ini Mulai Luntur di Indonesia

Ta'aruf: Sebanyak 5.374 mahasiswa baru UMY mengikuti pembukaan masa ta'aruf, di Sportorium kampus setempat, Senin (27/8).

Ta’aruf: Sebanyak 5.374 mahasiswa baru UMY mengikuti pembukaan masa ta’aruf, di Sportorium kampus setempat, Senin (27/8).

JOGJA – Mahasiswa baru UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) harus memiliki sikap jujur dan beriman. Itu penting karena sikap itu pula yang kini mulai luntur di Indonesia. Selain itu, perlu pula memiliki ilmu yang berkualitas. Sebagai generasi muda, mahasiswa baru UMY diharapkan mampu pula menjadi pilar bangsa menjaga kedaulatan NKRI.

“Jadilah pribadi yang jujur, beriman, dan berilmu dalam segala aspek demi menciptakan generasi bebas korupsi yang berlandaskan iman,” pesan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, H Haedar Nashir, kepada 5.374 maba (mahasiswa baru) UMY, dalam acara pembukaan Mataf Maba UMY (Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru UMY) tahun 2018, di Sportorium UMY, Senin (27/8).

Kejujuran harus tertanam dalam diri seorang mahasiswa, terutama untuk menghindari tradisi menyontek dalam upaya menuju Indonesia yang lebih baik. Karena saat ini sangat jarang ditemukan pemimpin yang mengutamakan kejujuran. “Nyontek itu perbuatan kecil-kecilan latihan korupsi. Jadi kalau biasa nyontek, nanti jadi pejabat juga korupsi,” tutur Haedar.

Jujur lebih baik. Keberhasilan bisa tanpa nyontek. Kalau sudah bisa jujur pada diri sendiri Insya Allah akan menjadi jujur kepada orang lain. Selain itu, salah satu kepribadian yang harus dimiliki mahasiswa adalah dekat kepada Allah SWT. “Maba harus beriman setelah sifat kejujuran itu tertanam di dalam diri. Beriman bukan sekedar hablum minallah, tapi harus membentuk pribadi-pribadi yang saleh dalam kehidupan sosial kemanusiaan,” tandasnya.

Kejujuran dan iman kepada Allah SWT sangat penting karena menjadi salah satu karakter yang mulai luntur di Indonesia. “Maba harus berani mengungkapkan kesalahan jika memang bersalah. Jangan menutupi kesalahan dengan kesalahan lain. Satu dusta ke dusta yang lain. Jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh karena beliau mampu menyatukan bangsa Arab dengan sebuah kejujuran, hingga diberi gelar Al-Amin,” ujar Haedar kemudian.

Selain jujur dan beriman, tak kalah pentingnya mahasiswa harus mempunyai ilmu yang berkualitas. Tradisi untuk menciptakan insan yang berilmu adalah membaca. “Dengan membaca, seseorang bisa meraih kemajuan dan peradaban,” pesan Haedar lebih jauh.

Rektor UMY Gunawan Budiyanto mengharapkan, mahasiswa bisa menjadi pilar bangsa yang mampu menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segenap jiwa raga. “Mahasiswa harus siap menjaga setiap jengkal tanah dari ancaman bangsa asing dan mmembela kedaulatan NKRI manakala kedaulatan sudah mulai dijual di Indonesia,” katanya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan