Kaum Muda Rentan Ide Radikalisme

Muda Muslim: Sosialisasi hasil temuan penelitian tentang 'Kaum Muda Muslim: Sikap dan Perilaku Perihal Kekerasan dan Ekstrimisme', di kampus Pascasarjana UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Senin (12/2).

Muda Muslim: Sosialisasi hasil temuan penelitian tentang ‘Kaum Muda Muslim: Sikap dan Perilaku Perihal Kekerasan dan Ekstrimisme’, di kampus Pascasarjana UMY, Senin (12/2).

JOGJA – Radikalisasi merupakan masalah yang masih banyak terjadi di Indonesia dan seringkali pemuda-pemuda tanah air terjebak di dalamnya. Pencegahan agar para penerus bangsa tidak terpengaruh paham-paham ekstrim tersebut sangat penting untuk dilakukan. Terlebih bagi kaum muda beragama, agar mereka tidak terjerumus dalam pemahaman yang cenderung ekstrimis. CSRC (Center for the Study of Religion and Culture) UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan penelitian mengenai arah dan corak keberagaman kaum muda muslim Indonesia.

“Masih bersyukur anak muda masih bisa diajak bicara soal Pancasila. Tapi pada saat sama mereka pun rentan dengan ide-ide radikalisme,” tutur peneliti untuk kota Jogjakarta dan Solo, Hilman Latief SAg MA PhD, saat sosialisasi hasil temuan penelitian tentang Kaum Muda Muslim: Sikap dan Perilaku Perihal Kekerasan dan Ekstrimisme, di kampus Pascasarjana UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Senin (12/2).

Pendidikan karakter penting untuk membentuk pandangan positif sebagai pondasi menentukan sikap, juga sebagai benteng terhadap radikalisme dan ekstrimisme. “Ini juga menyikapi berbagai kekerasan yang terjadi pada kaum muda seperti pembacokan Romo di Jogja kemarin. Pada masa pencarian ini, kaum muda perlu dibina dan diarahkan agar dapat membentuk karakter positif. Kita perlu mengisi ruang-ruang gagasan yang mereka miliki dengan hal-hal terbuka dan berkemajuan dan ini harus dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan,” papar Hilman.

Dr Chaider S Bamualim selaku koordinator untuk penelitian di 18 kabupaten/kota menyebutkan, ada beberapa tren yang dianut kaum muda muslim usia 15-24 terhadap beberapa isu. “Ada beberapa isu yang bersinggungan dengan radikalisme dalam fokus penelitian, yaitu toleransi, kebebasan dan hak, lalu ideologis,” ujar Chaider.

Untuk isu toleransi ada dua tren yang muncul. Pertama toleransi komunal dan skriptural. Kaum muda menggunakan dalil Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman literal. Namun pemahaman itu tidak diikuti kontekstualisasi makna teks sesuai dengan sebab munculnya ayat atau hadits tersebut. “Kaum muda muslim merasa tidak masalah bergaul dengan siapa saja. Tetapi ketika menyentuh wilayah politik, akan bertindak menggunakan pedoman agama. Misal, dalam isu pemimpin muslim dan non muslim,” papar Chaider.

Tren kedua, toleransi kewargaan dan pluralisme. “Toleransi yang berangkat dari nilai-nilai kesetaraan antarwarga dan penghormatan terhadap kebebasan asasi yang dimiliki dan dijamin negara,” tandas Chaider.

Sedangkan dalam isu kebebasan dan hak serta ideologis, Chaider menyebutkan, tren yang terjadi yaitu setuju, setuju dengan syarat, dan menolak. “Mereka yang setuju menyebutkan, isu tersebut merupakan bagian dari Islam dan menghormati orang lain untuk mempraktikkannya. Tren kedua, mereka berpendapat isu tersebut harus dibatasi dengan aturan agama ataupun budaya setempat. Sementara tren ketiga, mereka menolak secara total atas keberadaan isu tersebut karena menurut mereka isu tersebut merupakan produk Barat yang dapat merusak Islam.”

Chaider juga mengemukakan, dari penelitian yang dilakukan terhadap kaum muslim muda terpelajar tersebut, mereka cenderung menganut sikap dan perilaku keberagaman yang konservatif dengan corak komunal, skriptural dan puritan. “Meski begitu, sikap dasar dari generasi milenial ini terbuka dengan nilai serta prinsip keberagaman yang moderat. Mereka juga lebih menghargai kebebasan individu dan juga HAM secara umum, walau masih dibatasi norma agama dan budaya.”

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan