Kecerdasan Buatan Ambil Alih Banyak Pekerjaan

Kimia: Salah seorang pembicara mempresentasikan makalahnya pada hari pertama seminar internasional kimia ICCHEM 2018, di kampus UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Jumat (28/9).

Kimia: Salah seorang pembicara mempresentasikan makalahnya pada hari pertama seminar internasional kimia ICCHEM 2018, di kampus UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Jumat (28/9).

JOGJA – Pendidikan 4.0 mempersiapkan siswa untuk revolusi industri 4.0. Universitas dan sekolah harus menyesuaikan atau mengubah kurikulum sehingga lulusan dapat mengisi pekerjaan baru yang muncul. Beberapa pekerjaan saat ini tidak lagi relevan dan lebih banyak pekerjaan diambil alih oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi.

Dr Hafsah Binti Taha dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia menyampaikan hal itu pada ICCHEM 2018 (the International Conference of Chemistry), yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY, di gedung Digital Library UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Jumat (28/9).

Acara dua hari hingga Sabtu (29/9) ini juga menghadirkan pembicara Prof Dr Tienthong Thongpanchang (Mahidol University, Thailand), Assoc Prof Dr Muthuraaman Bhagavathi Achari (University of Madras, India), Dr Dwi Siswanta MEng (UGM), serta Prof Dr Sriatun (UNY).

Dekan FMIPA UNY, Dr Hartono menyatakan, seminar internasional kimia ICCHEM ini merupakan seminar internasional pertama yang dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY dengan prosiding terindeks Scopus. ICCHEM merupakan kolaborasi antara FMIPA UNY dengan UPSI (Universitas Pendidikan Sultan Idris) Malaysia dan HKI (Himpunan Kimia Indonesia).

UNY saat ini sedang menuju World Class University. Beberapa program telah dilaksanakan, di antaranya seminar internasional, join research, double degree, transfer kredit, dan lain-lain. “Di UNY sekarang ada duapuluh delapan seminar internasional yang semuanya terindeks scopus. Hal itu akan meningkatkan jumlah publikasi internasional bereputasi,” papar Hartono.

Untuk mengatasi kebutuhan negara berkembang, imbuh Hafsah, metode pengajaran dan pembelajaran baru sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. “Guru juga harus cukup kompeten guna meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan pemahaman, yang sama pentingnya dengan keterampilan berpikir,” ujarnya.

Itu bukan tugas mudah karena pendidik sekarang berhadapan dengan generasi muda digital, milenial. “Mereka tumbuh dengan internet. Mereka menunjukkan perilaku pemrosesan informasi secara dangkal, ditandai dengan pergeseran perhatian secara cepat,” tutur Hafsah kemudian.

Generasi milenial itu pun selalu terlibat dalam perilaku multitasking yang meningkat, terkait dengan peningkatan distractibility. Beberapa dari mereka bahkan menunjukkan prevalensi perilaku adiktif yang lebih tinggi terkait internet. “Karena itu, sebagai pendidik kimia, bagaimana kita harus mengatasinya dan bagaimana tetap relevan dan terhubung dengan pendidikan 4.0 dan generasi digital tanpa kehilangan jiwa siswa kita,” tandas Hafsah. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan