Kecerdasan Buatan Jadi Makalah Terbaik SNATi

Taufiq Hidayat (kiri) dan Agung Bahariyanto

Taufiq Hidayat (kiri) dan Agung Bahariyanto

JOGJA – Telah lima belas kali Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta menggelar SNATi (Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi) namun baru kali pertama makalah karya dosen dan mahasiswa Jurusan tersebut menjadi makalah terbaik. Eloknya, mahasiswa yang terlibat dalam penyusunan makalah itu adalah mahasiswa S1 semester IV. Padahal, kasus dalam makalah itu semestinya dipecahkan oleh mahasiswa S2.

“Ini kali pertama setelah sekian tahun menyelenggarakan seminar, makalah terbaik berasal dari UII sendiri. Biasanya dari luar,” ujar Ketua Seminar Nasional Informatika 2018, Hari Setiaji SKom MEng, didampingi Sekretaris Jurusan Teknik Informatika FTI UII, Nur Wijayaning Rahayu SKom MCs, di kampus setempat, Rabu (15/8).

Sudah tiga tahun ini Teknik Informatika menggabungkan dua seminar menjadi satu. Pertama SNATi yang tahun ini sudah merupakan tahun kelima belasnya dan seminar kedua adalah H@dfex (Hacking and Digital Forensic Exposed) yang penyelenggaraanya sudah enam tahun ini. Dua seminar itu digabungkan menjadi Seminar Nasional Informatika.

Dan untuk kali pertama the best paper yang dipresentasikan pada SNATi 2018 jatuh pada karya dosen dan mahasiswa Teknik Informatika. “Bukan karena tulisan itu berasal dari dalam, tapi memang benar-benar yang terbaik karena penilaiannya dilakukan oleh sejumlah reviewer yang sebagian besar dari luar UII,” jelas Hari.

Pada Seminar Nasional Informatika 2018 ini, panitia menerima 130 makalah. Dan setelah diskrining plagiasi serta kelayakannya oleh reviewer, hanya 57 makalah yang berhak dipresentasikan. Masing-masing 49 makalah SNATi dan 8 makalah H@dfex. Pelbagai tren di bidang teknologi informasi dan pengamanan teknologi informasi telah diangkat dan diulas dalam penyelenggaraan kedua seminar itu.

Setelah dilakukan penilaian, makalah karya dosen dan mahasiswa Teknik Informatika, Taufiq Hidayat ST MCS dan Agung Bahariyanto, dinyatakan sebagai the best paper. “Sangat membanggakan karena reviewer yang menilai berasal dari beberapa perguruan tinggi besar nasional dan semuanya bergelar doktor dan profesor,” papar Nur Wijayaning kemudian.

Taufiq menjelaskan, makalah yang ia susun bersama mahasiswanya itu berjudul SAT Solver dengan DPLL dalam Pemrograman Deklaratif, sebuah kecerdasan buatan yang mampu memecahkan suatu kasus dalam beberapa detik saja. SAT merupakan kependekan dari Satisfiability, perpaduan antara satisfied dan ability. Sedangkan DPLL merupakan salah satu varian dari algoritma.

Melalui kecerdasan buatan itu, Taufiq dan Agung berupaya memecahkan kasus dalam permainan Sudoku, semacam puzzle angka. “Jika menggunakan cara biasa memakai pikiran manusia, maka kasus dalam Sudoku dengan 729 variabel dan paling sedikit 8829 klausa itu bisa dipecahkan hingga beberapa jam, namun dengan kecerdasan buatan tersebut selesai hanya dalam waktu 30 detik.

“Untuk aplikasi sehari-hari, SAT Solver ini bisa dimanfaatkan untuk penggalian data. Misalnya mendeteksi gangguan dalam program web atau internet kita. Pun, mendeteksi kira-kira berapa jumlah mahasiswa atau siapa saja mahasiswa yang dengan tepat waktu bisa lulus atau tidak, hanya dengan melihat tren nilai mereka di awal-awal semester,” jelas Taufiq.

Paper karya Taufiq dan Agung itu sendiri dinyatakan menjadi yang terbaik berdasarkan sejumlah parameter yang telah ditetapkan sebelumnya. “Antara lain siginifikansi penelitian dengan masalah yang ada, serta kedalaman analisis yang disajikan,” tutur Hari seraya mngemukakan, tak kurang dari 30 orang reviewer didatangkan dan tiap paper biasanya direview oleh dua hingga tiga orang. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan