Kecil Jumlah Produk Terregister Indonesia

 IMG_20161101_143905
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
JOGJA – Register bagi suatu produk yang sah untuk kawasan Asean, MRAs (Mutual Recognition Arrangements), sangat dibutuhkan seiring diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Register yang bisa diakses oleh semua negara Asean itu juga sebagai salah satu syarat agar satu produk bisa keluar masuk di Asean.
“Indonesia sebagai negara terbesar di Asean justru memiliki jumlah produk terregister paling sedikit dibandingkan negara Asean lainnya,” ungkap Rektor UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA, saat membuka seminar Kimia FMIPA UNY, di ruang sidang fakultas setempat, Sabtu (29/10).
Malaysia, lanjut Rochmat, sudah memiliki 132 produk yang terregister, Thailand sekitar 50-an, dan Singapura sekitar 29 produk, sedangkan Indonesia baru 19 yang terregister. “Orang Kimia mempunyai potensi besar untuk membuat produk. Ini soal keseriusan dalam mengamankan produk-produk kita,” tandasnya.
Rochmat pun mengharapkan, banyaknya perguruan tinggi di Indonesia dengan keunikan masing-masing mampu menghasilkan produk yang bisa menambah produk yang bisa terregister. “Perkembangan teknologi semakin cepat. Kita, perguruan tinggi, harus mampu berkompetisi supaya tidak terlindas oleh perkembangan ilmu pengetahuan,” tuturnya kemudian.
Seminar dalam rangka dies natalis ke-60 Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY itu menampilkan pembicara dalam seminar tersebut, dosen program doktor Universitas Indonesia sekaligus praktisi industri baja di PT Krakatau Steel, Dr Ir Iskandar Muda MEng; staf Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir BATAN, Ir Sriyana MT, serta Dr Ir H Gatot Hari Priyawiryanto dari SEAMEO secara teleconference.
Iskandar dalam paparan bertajuk ‘Peranan Ilmu Kimia dalam Pengembangan Ilmu Material dan Penerapannya Di Industri Baja’ menjelaskan, produksi dan konsumsi baja nasional mencerminkan tingkat kemajuan suatu negara. “Indonesia masih menempati urutan yang rendah bahkan untuk kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Industri baja yang ada perlu meningkatkan inovasi dalam hal pengembangan produk-produk baja khusus atau material maju, untuk mendukung industri nasional yang bersifat strategis seperti industri pertahanan dan otomotif.
“Industri baja di Indonesia yang dimotori PT Krakatau Steel, terus menerus berupaya meningkatkan kemandirian dan daya saing dalam era industri global dengan meningkatkan aktivitas penelitian serta inovasi bidang baja dan material secara masif, sinergis, terarah dan berkesinambungan,” tegas Iskandar.
Tentang permasalahan energi dan kelistrikan di Indonesia, menurut Sriyana, masih menemui permasalahan di antaranya pasokan energi yang masih bertumpu pada energi fosil – non renewable energy. Sebagian energi fosil yang dihasilkan sebagian justru diekspor ke luar negeri. Sementara itu cadangan energi fosil terutama MIGAS semakin menipis.
Pertumbuhan permintaan energi tidak diimbangi pertumbuhan insfrastukturnya. Konsumsi energi per kapita masih rendah dibandingkan negara lain, bahkan di Asean. Rasio elektrifikasi pada 2014 mencapai 84 persen. Di bagian timur Indonesia masih rendah. Papua, 39 persen. “Kekurangan pasokan listrik ini terjadi di beberapa daerah. Bahkan ada yang impor listrik seperti Kalimantan Barat,” tutur Sriyana. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan