Kecil Produktivitas Publikasi Dosen

 IMG_20170222_025440
JOGJA – Peran sentral perguruan tinggi terletak pada dosen. Dosen yang hebat akan menghasilkan perguruan tinggi yang hebat pula. Namun, jumlah publikasi internasional di Indonesia baru sekitar 5.499 buah dari 265.817 orang dosen. Masih di bawah Thailand dengan 12.061 buah dan Malaysia 25.330 buah.
“Untuk itulah kementerian ristekdikti membuat aturan tentang publikasi internasional melalui peraturan menteri,” ujar Dirjen SDID (Sumber Daya Iptek Dikti) Prof dr Ali Ghufron Mukti MSc PhD, dalam sosialisasi Peraturan Menristekdikti No 70/2017 tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor, di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Selasa (14/2).
Jumlah dosen cukup banyak namun produktivitasnya kecil. “Peraturan itu dibuat agar asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan guru besar tetap produktif,” tandas Ghufron, di hadapan 500 orang dosen dari seluruh fakultas di UNY itu.
Skema pengembangan karir dosen dimulai sejak rekrutmen, mendapatkan sertifikasi pendidik, pengembangan kompetensi dengan studi lanjut, kenaikan jabatan akademik, serta pengembangan karya atau publikasi ilmiah, sehingga dosen memiliki karir sebagai academic leader.
“Bukan menjadikan jabatan struktural di dalam maupun di luar perguruan tinggi sebagai karir utamanya. Untuk itu dosen yang memiliki jabatan akademik Lektor Kepala diwajibkan menulis tiga karya ilmiah di jurnal nasional terakreditasi dan 1 karya ilmiah di jurnal internasional,” katanya.
Rektor UNY, Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA mengatakan, kegiatan ini digagas untuk mencari solusi sekaligus klarifikasi sejumlah pasal di Peraturan Menristekdikti No 70/2017. “Peraturan Menristekdikti ini mengatur hal tunjangan profesi yang diberikan kepada dosen dengan jabatan akademik Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor,” tuturnya kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan