Kejahatan Maya di Depan Mata

 IMG_20170520_203711
Dari kiri, Ketua Bakohumas Niken Widiastuti, Kepala Lemsaneg Mayjen TNI (Purn) Dr Djoko Setiadi, Gubernur DIY Hamengku Buwono X.
JOGJA – Kejahatan di dunia maya atau cyber-crime bukan lagi ancaman, tapi sudah nyata ada di depan mata kita. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa mengklaim bisa terhindar dari kejahatan maya. Kepedulian terhadap pengamanan atau cyber security pun sangat diperlukan dan perlu dipahami semua pihak.
“Terakhir, Indonesia pun menerima serangan sejenis virus komputer yang berskala internasional. Ini bukan hoax, tapi nyata,” ujar Ketua Bakohumas Nasional, R Niken Widiastuti, pada Forum Bakohumas, di Jogjakarta, Senin (15/5).
Sejenis virus yang menyerang tersebut merupakan jenis kejahatan maya yang bertujuan memeras. “Jika sistem yang kita miliki terserang dan ingin memulihkan lagi, maka kita harus membayar tiga ratus ribu dolar Amerika per data. Jelas ini bukan lagi ancaman tapi nyata,” tandas Niken.
Kepala Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara) Mayjen TNI (Purn) Dr Djoko Setiadi mengungkapkan, pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Tak kurang dari 132 juta pengguna pada 2016. Tapi itu juga berbanding lurus dengan kejahatan maya yang mencapai 97 juta.
“Karena itu kita semua harus bersikap bijak dalam menggunakan internet. Terutama, harus peduli terhadap keamanannya. Secara nasional, Lemsaneg sedang membangun sinergitas dengan semua pihak yang berkepentingan. Lebih utama mengupayakan membangun server yang kita miliki sendiri sehingga akan jauh lebih aman ketimbang menggunakan server orang lain,” kata Djoko.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengemukakan, tak ada yang bisa mengklaim bebas dari serangan kejahatan maya sekarang ini. Bahkan sejak 2015, serangan kejahatan maya telah meningkat hingga dua kali lipat. “Karena itu cyber security sangat penting untuk dipahami,” tegasnya.
Harus diakui hingga saat ini kita belum memiliki kebijakan memadai menyangkut cyber security. “Karena itu tugas persandian harus mampu mengembangkan logika berbasis IT. Persandian tak hanya melakukan pengamanan data dan informasi. Lebih dari itu harus mampu mengembangkan cyber security,” tandas HB X.
Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia, Yudi Prayudi, secara terpisah berpendapat, salah satu bentuk cybercrime yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini adalah kejahatan yang berbentuk pemerasan.
Aktivitas pemerasan terjadi karena pelaku membuat sebuah program sejenis virus komputer atau malware yang bila program tersebut menginfeksi sistem komputer akan menyebabkan data dan file pada komputer tersebut akan dikunci melalui program enkripsi.
Korban akan tersandera. Sistem komputer korban menjadi tidak bisa berjalan karena sebagian besar file dan data pada komputer tersebut tidak bisa lagi dibaca dan dikenali, karena bentuknya telah menjadi file yang terkunci. “Pada saat bersamaan si pelaku akan menawarkan solusinya untuk memberikan kunci dan membuka enskripsi dari semua file asalkan korban bersedia membayar dengan nominal tertentu,” tutur Yudi.
Berdasarkan data yang dirilis Wired, mulai Jumat 12 Mei 2017 telah terjadi penyebaran ransomware masif di seluruh dunia. Ransomware yang diberi identifikasi WannaCry, juga dikenal sebagai WanaCrypt dan WCry, telah menyebabkan sejumlah perusahaan menjadi korban. “Laporan dari berbagai lembaga keamanan data menunjukkan, ransomware telah menyebar dan menginfeksi komputer di hampir 100 negara termasuk Indonesia,” papar Yudi kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan