Kekerasan Pada Guru Akibat Sistem Pendidikan Abaikan Perilaku dan Karakter

IMG_20160831_181741

Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja

Dr Agus Heruanto Hadna 

JOGJA (jurnaljogja.com) – Pengamat Kebijakan Publik UGM, Dr Agus Heruanto Hadna menilai fenomena perselisihan antara guru dengan orangtua murid yang marak terjadi akhir-akhir ini akibat sistem pendidikan di Indonesia mengabaikan pendidikan perilaku dan karakter.
    Menurut dia, pendidikan di Indonesia lebih banyak menekankan pada aspek kognitif, sedangkan aspek perilaku cenderung dilupakan. “Pendidikan saat ini lebih banyak mengajarkan aspek kognitif saja, dicekoki dengan Iptek,” katanya di kampus setempat, Rabu (31/8).
   Kondisi ini, lanjut Hadna, mengakibatkan lemahnya aspek perilaku dalam pendidikan. Hal ini terjadi tidak hanya pada siswa, tetapi juga di pihak guru. “Jadi ada ketidakseimbangan antara pendidikan kognitif dengan perilaku,” ucapnya.
    Terjadinya kekerasan di sekolah sendiri menunjukkan tidak bekerjanya komunikasi yang baik antara sekolah dan orangtua murid. Meskipun sudah banyak dibentuk komite sekolah, namun belum banyak yang memanfaatkan wadah ini sebagai sarana menjalin komunikasi orangtua murid dengan pihak sekolah dengan baik. “Kalau komunikasinya efektif maka tidak akan terjadi hal-hal seperti ini,” tuturnya.
   Dosen Fisipol UGM ini menambahkan, guna mencegah kekerasan guru tidak terulang kembali, maka pemerintah perlu mengevaluasi sistem pembelajaran di Indonesia. Sistem pendidikan sebaiknya tidak hanya menekankan aspek kognitif anak,  tetapi juga memperhatikan aspek perilaku. “Dalam pengembangan kurikulum mulai dari pendidikan TK sampai perguruan tinggi hendaknya diseimbangkan anatara aspek kognitif dengan aspek perilaku.”
   Selain itu, tindak kekerasan di sekolah bisa diminimalisir dengan membangun komunikasi yang baik antara orangtua murid dengan sekolah.  Ini agar tidak banyak lagi terjadi kasus tragis pada guru. Maka, sebaiknya dalam mendidik murid, khususnya pemberian hukuman hendaknya yang dapat menciptakan efek positif bagi siswa.
    Cara mendidik bisa dilakukan dengan mengembangkan model pemberian insentif dan disinsentif yang justru bisa membuat murid menjadi tertantang untuk menjadi lebih baik. “Metode ini bisa mencegah terjadinya kekerasan, baik pada anak maupun guru,” jelasnya. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan