Kekerasan Seksual Incar Mahasiswa

 IMG_20161226_205909
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
JOGJA – Kasus kekerasan banyak mengincar korban dari kalangan remaja usia 18-21 tahun, terutama kekerasan seksual. Usia tersebut merupakan usia mahasiswa Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, pihak kampus dihimbau untuk aktif menangani dan mencegah terjadinya kekerasan yang terjadi pada mahasiswanya.
“Ironisnya, kadang kekerasan tersebut justru dilakukan oleh sesama mahasiswa,” ujar Konselor Hukum Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Lisa Oktavia, pada workshop ‘Kampus Tanpa Kekerasan’, yang diselenggarakan Magister Ilmu Pemerintahan UMY bekerjasama dengan Kementerian Perlindungan Perempuan dan Pemberdayaan Anak, di Jogjakarta, Sabtu (24/12).
Kampus juga harus turut andil dalam mencegah terjadinya kekerasan. Harus memiliki mekanisme layanan pengaduan dan penanganan kasus. “Kampus juga harus memiliki tata-ruang yang baik seperti menambah pencahayaan di sekitar kampus dan juga penempatan penjaga di tempat-tempat strategis. Patroli satpam kampus mutlak di lokasi-lokasi yang sekiranya rawan kekerasan,” tandas Lisa.
Dalam kasus kekerasan seksual, banyak mahasiswa puteri yang diincar sebagai sasaran. Hal ini biasanya terjadi pada mahasiswa yang berpacaran. “Biasanya laki-laki yang memacari perempuan akan memberikan perhatian lebih kepadanya melebihi perhatian yang diberikan orangtuanya,” papar Lisa.
Dengan begitu, imbuhnya, perempuan itu akan dengan mudah dipengaruhi dan dirayu oleh pacarnya. “Pacar laki-lakinya akan bilang, dirinya akan bertanggungjawab menikahi perempuan tersebut bila perempuan tersebut hamil, namun kenyataannya tidak,” ujar Lisa kemudian.
Banyak korban yang cenderung takut melaporkan kasus kekerasan seksual kepada petugas berwajib. Hal itu tak lepas dari lingkungan yang seing menganggap remeh kasus kekerasan seksual yang dialami korban. “Belum lagi korban akan terus menerus diinterogasi tetapi kasusnya belum tentu ditangani, sehingga korban malas dan takut melapor. Apalagi kemudian didatangi media, diwawancarai dan dieksploitasi sehingga psikis korban akan terpengaruh,” ungkap Lisa.
Dosen UMY, Dr Nur Azizah MSi menyampaikan, kampus butuh dukungan pemerintah untuk mengurangi kasus kekerasan yang terjadi. “Mahasiswa juga harus tahu kategori kekerasan itu sendiri. Terkadang mereka melakukan tetapi tidak sadar yang dilakukannya tindak kekerasan. Harus ada pula advokasi kebijakan di kampus yang didukung pemerintah, supaya mahasiswa tidak melakukan kekerasan,” saran Azizah lebioh jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan