Kematian Akibat Antibiotik Bisa Melebihi Kanker

IMG_20170413_183238
dr Hari Paraton menjelaskan seputar antibiotik kepada jurnalis di Jogjakarta, Minggu (9/4).
JOGJA – Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai Indikasi, jenis, dosis dan lamanya, serta kurangnya kepatuhan penggunaan antibiotik merupakan penyebab timbulnya resistensi antimikroba (AMR). Tanpa tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahunnya pada 2050.
“Angka kematian akibat AMR itu akan melebih angka kematian akibat kanker yang mencapai delapan koma dua juta jiwa per tahun. Total kerugian global pun tidak main-main. Bisa mencapai seratus triliun dolar AS,” ungkap Ketua KPRA (Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba), Kemenkes, dr Hari Paraton SpOG(K), di Jogjakarta, Minggu (9/4).
Pada kegiatan bertajuk ‘Kendalikan Penggunaan Antibiotik untuk Mencegah Munculnya Resistensi Bakteri’ yang digagas PT Pfizer Indonesia bagi para jurnalis itu, Hari pun mengemukakan, data itu menunjukkan AMR memang telah menjadi masalah yang harus segera diselesaikan dan perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik.
Selain itu, lanjut Hari, penyebab banyaknya kasus resistensi antibiotik dipicu pula mudahnya masyarakat membeli antibiotik tanpa resesp dokter di apotek, kios atau warung. “Seharusnya, antibiotik tidak dijual bebas dan harus berdasarkan resep dokter,” katanya.
Menyimpan antibiotik cadangan di rumah, memberi antibiotik kepada keluarga, tetangga atau teman merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di masyarakat. “Ini dapat mendorong terjadinya resistensi antibiotik,” tutur Hari kemudian.
Tidak semua penyakit infeksi perlu ditangani dengan memberi antibiotik. Penggunaan antibiotik semata hanya untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri. “Perlu disadari, antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus,” tandas Hari.
Pfizer berkomitmen menjalankan segala kegiatan dan operasionalnya demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat. “Kegiatan Pfizer Press Circle kali ini merupakan salah satu kepedulian kami sekaligus mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi antimikroba,” ujar Public Affairs & Communication Director PT Pfizer Indonesia, Widyaretna Buenastuti. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan