Kemenpora Dorong Industri Olahraga

Pelatihan: Mendorong tumbuhnya industri olahraga, Kemenpora menggelar pelatihan selama sepekan di Jogjakarta, yang berakhir pada Selasa (9/10).

Pelatihan: Mendorong tumbuhnya industri olahraga, Kemenpora menggelar pelatihan selama sepekan di Jogjakarta, yang berakhir pada Selasa (9/10).

JOGJA – Olahraga tak hanya berkaitan dengan perlombaan atau kejuaraan. Ada sebuah industri, yang besar skalanya, di balik dunia olahraga. Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga) pun mendorong wirausahawan muda untuk terjun di industri tersebut karena kebutuhan terhadap produk-produknya sangat besar pula.

“Peluangnya masih sangat besar. Pemain atau wirausahawan yang menekuni industri olahraga masih sangat sedikit. Karena itu kami mendorong para wirausahawan, terutama generasi muda, untuk menekuninya,” ujar Kabid Produk Barang dan Jasa Industri Olahraga, Kemenpora, M Gajah Nata Surya, di Jogjakarta, Selasa (9/10).

Selama sepekan, mulai Rabu (3/10), Kemenpora menggelar pelatihan di Jogjakarta, terkait dengan pembuatan cinderamata maupun sarana olahraga. Misalnya bola sepak, busur panah, dan sebagainya. Dengan peserta berjumlah 80 orang asal Jogjakarta dan Klaten. “Kami memang ingin menumbuhkan kewirausahaan di bidang barang dan jasa produk olahraga,” tutur Gajah.

Sudah beberapa pelatihan yang digelar berkaitan dengan produk sarana olahraga. Sebelum di Jogjakarta, digelar pula di Kebumen mengenai produksi bola tendang. Di Bandung berkaitan dengan manajemen dan promosi olahraga. “Saat ini Kemenpora sedang menggencarkan promosi pencak silat ke dunia internasional. Ke Eropa, Amerika, Jepang, dan Azerbaijan agar nantinya budaya olahraga tanah air itu bisa dipertandingkan di olimpiade,” kata Gajah.

Tak hanya produk untuk sarana olahraga seperti bola sepak dan busur panah, tapi Kemenpora pun memandang cinderamata olahraga sangat penting terutama bagi wisatawan. “Ternyata banyak wisatawan yang mencari cinderamata yang spesifik. Berkaca dari Asian Games kemarin, mereka rela antri untuk membeli boneka ikon kejuaraan multi-event itu,” papar Gajah kemudian.

Dibandingkan dengan Tiongkok, misalnya, Indonesia masih kalah jauh. Karena itu pemerintah mendorong pengembangan produk barang dan jasa olahraga karena akan sangat mendorong peningkatan PDB kita. “Tentu kita harus mampu memproduksi barang berkualitas agar mampu bersaing. Dan itu memerlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah,” tegas Gajah.

Kemenpora tahun ini telah berhasil membentuk enam sentra industri olahraga di enam kota. Masing-masing Jogjakarta dengan konsentrasi produksi busur panah, Solo dengan kaos batik bernuansa olahraga, Tebingtinggi Medan dengan panah dan bola, Bogor dengan kaos atau jersey olahraga, Banyuwangi dengan olahraga alam, serta Bali dengan padepokan olahraga.

“Tahun depan kami menargetkan sepuluh kota lagi sebagai sentra industri olahraga. Target keseluruhan selama lima tahun terbentuk delapanbelas sentra industri olahraga di berbagai kota. Secara khusus Kemenpora ingin peluang ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, anak-anak muda asal pondok pesantren, guru olahraga, hingga mantan atlet,” jelas Gajah lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan