Kerajinan Indonesia Belum Mendunia

Penyuluh: Dirjen IKM dan Aneka, Kemenperin, Gati Wibawaningsih, saat mengukuhkan DPP Perkumpulan Penyuluhan Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, di Jogjakarta, Rabu (24/4) malam.

Penyuluh: Dirjen IKM dan Aneka, Kemenperin, Gati Wibawaningsih, saat mengukuhkan DPP Perkumpulan Penyuluhan Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, di Jogjakarta, Rabu (24/4) malam.

JOGJA – Produk kerajinan asal Indonesia ternyata belum banyak berbicara di tingkat dunia. Baru satu koma nol sekian persen produk kerajinan industri kecil menengah Indonesia mewarnai pasar kerajinan dunia. Ditjen Industri Kecil Menengah dan Aneka, Kemenperin bertekad meningkatkan persentase produk kerajinan tersebut.

“Harus ditingkatkan. Tapi, agak berat, memang,” ujar Dirjen IKM dan Aneka, Kemenperin, Gati Wibawaningsih, usai mengukuhkan DPP Perkumpulan Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, di Jogjakarta, Rabu (24/4) malam.

Gati mengemukakan, pihaknya ingin persentase itu menjadi dua atau tiga persen. Tapi diakui peningkatan hingga dua atau tiga kali lipat itu masih sangat berat. “Bisa meningkat tiga puluh persen saja, saya kira sudah sangat bagus,” tuturnya kemudian.

Ada beberapa alasan hingga produk kerajinan IKM Indonesia masih sangat sulit mewarnai pasar dunia. Desain dan konsistensi menjadi alasan utama. Konsistensi terutama menyangkut kualitas. “Masih sangat sulit bagi IKM kita untuk konsisten, menjaga kualitas sesuai standar pasar luar negeri,” ujar Gati.

Menyangkut desain, lanjut Gati, IKM Indonesia perlu mengetahui persis selera pasar asing. Tanpa pengetahuan itu, susah untuk melakukan penetrasi pasar. “Dibutuhkan market intelligence. Untuk itu, kami berencana bekerjasama dengan KBRI setempat, misalnya. Paling tidak, dengan atase perdagangan,” tandasnya.

Terkait tenaga penyuluh, menurut Gati, sangat diperlukan saat ini. “Pendampingan merupakan hal utama yang dibutuhkan IKM. Sudah ada di berbagai daerah, tapi jumlah tenaga penyuluh masih sangat kurang saat ini,” ujarnya seraya mengungkapkan, ada 300 orang penyuluh saat ini padahal jumlah industri menengah di seluruh Indonesia sekarang ini tak kurang dari 30.000.

Karena itu, untuk sekarang ini para tenaga penyuluh harus fokus. Harus benar-benar mengetahui potensi atau keunggulan masing-masing daerah sehingga IKM-nya bisa berkembang. “Hanya yang mau bekerja keras, kreatif, dan inovatif yang akan berhasil,” papar Gati. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan