Keterpurukan Peradaban Islam Makin Kritis

 IMG_20171005_201727
Suwarsono Muhammad (kiri) menyampaikan kuliah umum, di Pascasarjana UAD Jogjakarta.
JOGJA – Posisi terpuruk peradaban Islam yang telah berlangsung cukup lama – sudah beberapa abad dan masih terus berlangsung hingga kini – sepertinya diakui oleh sebagian besar umat Islam. Tak terkecuali sebagian besar umat Islam Indonesia.
“Posisi terpuruk itu lebih mudah dirasakan dan dipahami jika diletakkan dalam konteks perbandingan dengan posisi beberapa peradaban lain,” ungkap anggota LHKP (Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik) PP Muhammadiyah, Suwarsono Muhammad, di hadapan peserta kuliah umum Pascasarjana UAD, di kampus setempat, Sabtu (16/9).
Penurunan peradaban Islam itu sepertinya sudah demikian dekat dengan titik nadir, cenderung semakin kritis. “Setidaknya belum ditemukan tanda-tanda signifikan yang menunjukkan ada perputaran arah pergerakan. Belum kembali pada posisi pasang naik atau sekadar berhenti pada titik rendah tertentu,” tutur Suwarsono kemudian.
Pergerakannya terlihat terus menurun dengan tingkat akselerasi yang tinggi. “Sepertinya telah tidak lagi tersedia sisa energi setidaknya untuk memperlambat proses kejatuhan,” ungkap Suwarsono yang juga dosen FE UII itu.
Jika tidak segera dijumpai tanda-tanda kebangkitan, lanjut Suwarsono, bukan tidak mungkin inilah periode terakhir dari serangkaian krisis yang telah berlangsung dan mengarah pada kehancuran total. “Sungguh sebuah tragedi yang memilukan dan tidak diinginkan.”
Kalaulah ada tanda positif barangkali bisa ditemukan pada gairah umat Islam mematuhi dan menjalankan ritual agama. “Tak saja yang berupa ibadah wajib dan besar, tapi juga yang termasuk kategori sunnah dan mungkin dinilai berada pada posisi pinggiran,” katanya.
Ada juga satu tanda lain yang tak boleh dilupakan tetapi tidak sepenuhnya dapat dinilai positif bahkan terkesan amat mengejutkan dunia, yakni menguatnya perlawanan politik umat Islam pada peradaban dominan Barat.
Perlawanan politik itu mulai terlihat agak jelas sejak dasawarsa 1970-an, berdekatan dengan Revolusi Iran pada 1979. Kemudian berkembang dan puncaknya ditandai Peristiwa 9 September 2001. “Kelahiran ISIS bisa jadi termasuk dalam kategori itu. Akibatnya kemudian, umat Islam tertuduh menjadi sumber radikalisme dunia,” papar Suwarsono. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan