Kewirausahaan Penting Untuk Pertumbuhan Ekonomi

 

 

 IMG_20160825_191801
JOGJA – Ketertinggalan perekonomian Indonesia dibandingkan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan disebabkan terbatasnya entrepreneurship. Keberadaan entrepreneur sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, maupun pengangguran.
Pada 2015 jumlah entrepreneur di Indonesia baru 1,56 persen dari total penduduk, sementara untuk mendukung pembangunan ekonomi diperlukan entrepreneur sekurang-kurangnya dua persen dari total penduduk.
“Oleh sebab itu, pendidikan entrepreneurship perlu disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat agar jumlah penduduk yang memiliki entrepreneurship semakin banyak, sehingga budaya kewirausahaan semakin berkembang,” ungkap Prof Dr Sukidjo MPd dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, di kampus setempat, Rabu (24/8).
Pada pidato berjudul ‘Peran Pendidikan Entrepreneurship dalam Pengembangan Ekonomi Kerakyatan dan Pengentasan Kemiskinan’, itu Sukidjo juga mengatakan, tujuan pendidikan entrepreneurship untuk menanamkan pengetahuan, nilai-nilai, jiwa, dan sikap kewirausahaan kepada peserta didik, dalam rangka menciptakan wirausaha-wirausaha baru yang andal.
“Pendidikan entrepreneurship perlu ditumbuhkembangkan di sekolah, perguruan tinggi maupun di masyarakat pada umumnya. Keberadaan entrepreneur dapat difungsikan sebagai motor penggerak perekonomian nasional. Pendidikan kewirausahaan perlu ditingkatkan untuk membentuk manusia yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif sehingga mampu dan berani memanfaatkan peluang untuk menciptakan usaha  baru,” tegas Sukidjo.
Doktor bidang Pendidikan dan Evaluasi Pembelajaran Pascasarjana UNY itu mengemukakan, pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan ke dalam seluruh matapelajaran dengan tujuan meningkatkan kesadaran pentingnya pembiasaan nilai-nilai kewirausahaan dalam perilaku sehari-hari dan terbentuknya karakter wirausaha. Di perguruan tinggi dikembangkan kuliah kewirausahaan, magang kewirausahaan, kuliah kerja nyata kewirausahaan, klinik konsultasi bisnis dan inkubator bisnis.
“Pendidikan entrepreneurship di luar sekolah dilakukan dinas-dinas terkait di pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Cara yang dilakukan antara lain melakukan sosialisasi kepada generasi muda dan ibu-ibu rumahtangga, pelatihan dan kursus bagi karang taruna, ibu-ibu PKK, pemuda putus sekolah serta magang pada dunia usaha,” tutur Sukidjo kemudian.
Ia pun menegaskan, pendidikan entrepreneurship dimaksudkan untuk mengubah mindset penduduk miskin agar memiliki kemampuan dan berani menciptakan usaha baru, mengubah budaya kemiskinan menuju budaya kewirausahaan melalui jalur pendidikan formal maupun non formal.
Berbagai pelatihan sebaiknya ditindaklanjuti dengan memberikan peralatan sebagai modal kerja untuk menciptakan usaha dalam skala usaha mikro, kecil, maupun menengah. Sampai dengan tahun 2016, masih terdapat 10,86 persen penduduk Indonesia yang termasuk dalam kategori miskin.
“Untuk mempercepat pengentasan kemiskinan, salah satu upaya yang dilakukan membudayakan kewirausahaan melalui pendidikan entrepreneurship dan meningkatkan kerjasama kemitraan antara UMKM dengan Usaha Besar,” pungkas Sukidjo. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan