KH Ma’ruf Amin Komitmen Bangun Perekonomian Lebih Berkeadilan

Silaturahim: Pada kunjungannya ke Jogjakarta, cawapres KH Ma'ruf Amin (tiga kanan) menyempatkan diri menyambangi kediaman mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif (dua kiri), di Perum Nogotirto, Sleman, DIY, Senin (15/10).

Silaturahim: Pada kunjungannya ke Jogjakarta, cawapres KH Ma’ruf Amin (tiga kanan) menyempatkan diri menyambangi kediaman mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif (dua kiri), di Perum Nogotirto, Sleman, DIY, Senin (15/10).

JOGJA – Calon wakil presiden KH Ma’ruf Amin menegaskan pentingnya membangun ekonomi Indonesia yang lebih berkeadilan di masa mendatang. Selama pemerintahan Joko Widodo, langkah membangun Indonesia perlu ditingkatkan, salah satunya membangun manusianya.

“Ekonomi Indonesia ke depan harus dibangun dari bawah dan berkeadilan, sesuai sila kelima Pancasila,” kata KH Ma’ruf Amin saat memberikan pidato di hadapan relawan dan elemen tim kampanye Jokowi-Amin, di Jogjakarta, Senin (15/10).

Untuk menuntaskan pembangunan, yang perlu dikerjakan ke depan, menghilangkan disparitas atau kesenjangan antar-daerah. Kondisi yang berbeda jauh dalam soal pembangunan daerah, harus segera dituntaskan.

Politisi muda PDI Perjuangan, Eko Suwanto, mendukung konsep ekonomi berkeadilan. Di daerah memang butuh sinergi ekonomi antara pusat dan daerah. “Kita bersama pemerintah daerah memberikan dukungan agar langkah membangun Indonesia bisa lebih sejahtera,” kata Eko yang juga alumni Magister Ekonomi Pembangunan UGM itu.

Sebelum bertemu dengan seluruh caleg dan relawan dari sembilan partai politik pendukung Jokowi-Amoin itu, mengawali hari kedua kunjungannya ke Jogjakarta, KH Ma’ruf Amin juga menyempatkan diri berkunjung ke kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Kraton Kilen, Kraton Jogjakarta.

Usai bertemu Sultan dan keluarganya, KH Ma’ruf Amin menuju Ponpes Pandanaran, Sleman, DIY bertemu dengan segenap pengasuh maupun santri pondok. Berikutnya, pasangan Jokowi untuk Pilpres 2019 itu menyambangi kediaman mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif.

“Hari ini, siang ini, saya bersilahturahim ke Buya Syafii Maarif. Beliau ini sahabat dekat saya, kebetulan bersama-sama di BPIP. Sama-sama anggota BPIP, cuma karena saya jadi cawapres, maka saya harus mundur dari BPIP. Itu aturannya,” ujar Kiai Ma’ruf usai pertemuan sekitar hampir satu jam dengan Buya Syafii.

Ketua nonaktif di Majelis Ulama Indonesia itu mengatakan, banyak hal yang dibahas dalam pertemuannya dengan Buya Syafii. “Beliau memberikan kepada saya banyak hal. Karena saya memang meminta beliau memberikan saran pendapat. Kalau, ini kalau, terpilih menjadi wakil presiden, akan saya jadikan bahan pertimbangan di mana saya bersama Pak Jokowi mengelola negara,” tutur Ma’ruf.

Buya Syafii juga berpesan ke Ma’ruf agar kelak jika terpilih menjadi wapres tetap menjaga kemajemukan. “Walaupun bukan pendukung, katakan misalnya rival politik, tetap kita perlakukan secara sama. Jangan sampai ada kelompok-kelompok yang didiskriminasi, tidak diberikan pelayanan. Itu saya kira sangat penting untuk menjaga dan merawat kemajemukan,” kata Kiai Ma’ruf menirukan pesan Buya Syafii.

Sedangkan Buya Syafii mengatakan, agama memang tidak bisa dipisahkan dari politik. Namun, semestinya agama menjadi panduan moral dalam berpolitik. “Jadi agama jangan dijadikan kendaraan. Politik yang harus menjadi kendaraan moral. Idealnya begitu,” tuturnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan