Kimia Sering Dikaitkan Terorisme

????????????????????????????????????

????????????????????????????????????

JOGJA – Literasi kimia masyarakat Indonesia dewasa ini tergolong masih belum menggembirakan bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Selain sebagai ilmu yang berguna, kimia di Indonesia pun masih dianggap sebagai momok oleh sebagian masyarakat.

“Bahkan tak jarang sering dikaitkan dengan hal-hal negatif seperti terorisme,” ujar pakar Kimia UGM, Prof Dr rer nat Karna Wijaya, di hadapan peserta seminar nasional kimia ‘Sinergi Penelitian dan Pembelajaran untuk Mendukung Pengembangan Literasi Kimia pada Era Global’, di kampus FMIPA UNY, Sabtu (14/10).

Karena itu pendidik dan peneliti kimia di perguruan tinggi dan lembaga penelitian berkewajiban secara moral untuk ikut mengedukasi masyarakat agar mereka menjadi lebih literate atau ‘melek’ terhadap kimia melalui berbagai pendekatan dan metode edukasi yang benar.

“Literasi kimia merupakan tindakan memahami ilmu, konsep, dan proses kimia serta kemampuan menggunakannya untuk keperluan tertentu. Misal, untuk kepentingan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dapat diartikan pula sebagai pengetahuan terhadap manfaat dan kerugian ilmu kimia,” tutur Karna.

Pada seminar yang dihadiri dosen dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian dari seluruh Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, serta para guru itu, Karna juga mengemukakan, agar seseorang melek dalam bidang kimia diperlukan pendidikan formal dan non formal yang terencana, sistematis, serta berkelanjutan di bangku sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Pembicara utama lainnya, Prof Sri Rahayu MEd PhD menyatakan, literasi sains termasuk literasi kimia sangat perlu untuk diajarkan kepada siswa agar mereka dapat hidup di tengah-tengah masyarakat modern abad 21.

“Berbagai upaya telah dilakukan di berbagai negara termasuk Indonesia untuk meningkatkan literasi sains dan literasi kimia siswa. Misal, upaya diluncurkannya kurikulum baru 2013,” ujar Sri Rahayu yang juga dosen Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang itu.

Guru kimia sebagai tonggak penentu keberhasilan dari upaya tersebut, imbuh Sri Rahayu, perlu memahami secara baik pengertian literasi kimia, cara menilai, dan mendesain pembelajaran kimia yang berorientasi pada peningkatan literasi kimia siswa.

Pembelajaran kimia dapat didesain dengan mengoptimalkan aspek-aspek literasi, yaitu memilih topik kimia yang memiliki banyak relevansinya bagi kehidupan siswa dan mencakup pengetahuan deklaratif, prosedural, serta epistemik.

“Aspek literasi lainnya, strategi pembelajaran berbasis inkuiri; menentukan konteks yang relevan, kontemporer, atau isu-isu sosiosaintifik; menentukan nilai-nilai afektif dan cara belajar siswa yang akan dikembangkan dalam pembelajaran berorientasi literasi kimia,” tandas Sri Rahayu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan