KKN UMY Rambah Pelosok Negeri

 IMG_20170723_175121
Rektor UMY Gunawan Budiyanto (depan tengah) bersama mahasiswa peserta KKN Mandiri Tematik di daerah 3T. 

JOGJA – Merintis sejak 2006, UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) tahun ini kembali mengirimkan mahasiswa pilihan ke beberapa pelosok negeri untuk menjalani program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ada lima daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang menjadi tujuan.

“Mereka yang berangkat ini memang pilihan karena telah melalui seleksi ketat. Bahkan bagi mahasiswa yang ingin mengundurkan diri, masih ada waktu tiga hari untuk berpikir ulang. Ini serius, daripada justru ‘merepotkan’ ketika sudah di lapangan,” ujar Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP, di kampus setempat, Selasa (11/7), saat melepas 148 orang mahasiswa yang akan mengikuti KKN tersebut.

Rektor pun kemudian mengenang sekaligus memaparkan pengalaman saat merintis atau melakukan ujicoba KKN ke Lamandau, Kalimantan Tengah pada 2006 silam. “Ketika itu, mungkin karena persiapan yang kurang, ada mahasiswa peserta yang kemudian terpapar malaria. Dan itu membuat saya ‘dimarahi’ banyak orang,” tutur Gunawan yang waktu itu masih berstatus sebagai DPL (dosen pendamping lapangan).

Ketika itu, lanjut Gunawan, KKN ke Kalteng tersebut hanya diikuti 12 orang mahasiswa. “Karena itu saya bersyukur jika program KKN Mandiri Tematik tahun ini diikuti mahasiswa dengan jumlah jauh lebih banyak,” katanya kemudian.

Kepala LP3M UMY, Gatot Supangkat mengemukakan, sejumlah mahasiswa yang akan mengikuti KKN ke daerah 3T tahun ini akan disebar ke masyarakat suku Kokoda di Sorong, Papua sebanyak 25 orang mahasiswa, ke Sambi Rampas Manggarai Timur, NTT (31), ke Sembalun, Lombok Timur, NTB (36), ke daerah perbatasan Sebatik, Kaltara (40), dan ke suku Dayak Pedalaman, Berau, Kaltim (16).

Kepada para mahasiswa tersebut, rektor pun memaparkan sekilas tantangan dan berbagai persoalan yang kemungkinan akan dihadapi. “Di Sebatik, misalnya, kalian akan menghadapi masyarakat yang sebagian justru lebih bangga mengakui negara tetangga ketimbang negara kita. Itulah tantangannya. Kalian harus mampu membangkitkan rasa kebangsaan sebagian masyarakat di sana,” pesan Gunawan.

Sedangkan di NTT merupakan daerah kering yang selalu kekurangan air. “Kondisi itu diperparah dengan adanya perambahan pohon Cendana secara besar-besaran hingga habis setelah Pak Harto lengser, karena ternyata pohon Cendana itu satu jenis pohon yang mampu menyimpan air,” papar Gunawan.

Tantangan di NTB berbeda lagi. Saat ini masyarakat di sana sedang dalam masa transisi dari kehidupan agraris menjadi daerah yang menjadi tujuan wisata. “Bangkitkan mereka, terutama menyangkut pendidikan. Jangan sampai justru mereka hanya akan menjadi penonton ketika pariwisatanya maju,” tegas Gunawan.

Di Papua, imbuh Gunawan, para mahasiswa akan menemui masyarakat yang benar-benar masih tertinggal. “Bayangkan, di era internet ini, masih ada saudara-saudara kita di Kokoda sana yang tidak bisa menanam Ketela Pohon. Itu tantangan kalian,” pesannya lebih jauh.

Sedangkan di Berau, Kaltim akan ditemui adanya kepentingan ekonomi yang kemudian mengorbankan keberadaan hutan sebagai sumber kekayaan plasma nuftah. “Demi kepentingan ekonomi, mereka lebih memilih memajukan pertambangan. Sayangnya, sumber-sumber tambang itu ada di bawah hutan-hutan yang ada,” ujar Gunawan.

Ia mengharapkan, para mahasiswa selama dua bulan menjalani KKN mampu menghadapi sekaligus memberikan sedikit solusi terhadap tantangan maupun berbagai persoalan yang ada di masing-masing daerah. Rektor juga mengaku berterimakasih karena KKN Mandiri Tematik tahun ini mendapat dukungan MPM (Majelis Pmberdayaan Masyarakat) PP Muhammadiyah dan Lazismu (Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah). (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan