Komunitas Petani Ini Sudah Kekinian

Petani: Ketua DPW Petani DIJ Anggit Bimanyu (bertopi) dan GM PT Telkom Witel Jogjakarta Firmansyah (dua kanan) menunjukkan nota kesepahaman yang mereka tandatangani sebelumnya.

Petani: Ketua DPW Petani DIJ Anggit Bimanyu (bertopi) dan GM PT Telkom Witel Jogjakarta Firmansyah (dua kanan) menunjukkan nota kesepahaman yang mereka tandatangani sebelumnya.

JOGJA – Pemasaran seringkali menjadi satu persoalan bagi petani selama ini. Itu semua bisa ditepis manakala petani melek teknologi, melek internet, sehingga mereka bisa berjualan secara online melalui teknologi digital itu. Dan sebentar lagi berjualan secara digital akan bisa dirasakan oleh komunitas petani anggota DPW Petani (Dewan Pengurus Wilayah Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia) DIJ. PT Telkom yang kemudian memfasilitasi para petani tersebut. Sudah semestinya petani kekinian di era digital ini.

“Kami akan semakin senang jika makin banyak petani yang menggunakan internet. Bukan karena uangnya, tapi akan semakin bagus jika makin banyak masyarakat yang melek internet. Silakan gunakan fasilitas kami. Banyak situs yang bisa dimanfaatkan. Kami ingin maju bersama,” ujar GM (General Manager) PT Telkom Witel Jogjakarta, Ir Firmansyah, saat penandatanganan nota kesepahaman PT Telkom dengan DPW Petani DIJ, di kantor Telkom setempat, Selasa (28/11).

Firman mengingatkan, masih banyak yang harus dilakukan untuk merambah ke dunia e-commerce jika petani tak ingin hanya menjadi penonton di persaingan global ini. “Saatnya petani Indonesia bangkit dan maju dengan memanfaatkan fasilitas teknologi digital. Banyak komoditas yang ada di Indonesia yang tak dimiliki negara lain. Sekali lagi, manfaatkan teknologi digital jika tak hanya ingin menjadi penonton,” tandasnya.

Banyak potensi komoditas pertanian yang dimiliki, tapi kemampuan mengolahnya perlu terus ditingkatkan jika ingin bisa bersaing dengan komoditas luar negeri. “Beras hitam, misalnya, banyak varietas yang kita miliki yang tak dimiliki negara lain. Begitu pula pewarna alami untuk batik yang hanya ada di Indonesia. Jika pewarna itu bisa kita jadikan pasta, maka tak ada negara lain yang bisa menyaingi,” papar Firmansyah.

Ketua DPW Petani DIJ, Anggit Bimanyu menyatakan, petani saat ini juga tak ingin ketinggalan. Kami juga ingin bisa bergerak cepat agar mampu bersaing. “Saya kira kerjasama kali ini menjadi salah satu jawabannya. Menjadi petani digital merupakan tuntutan jaman. Mau tidak mau kami para petani harus melek internet,” katanya usai penandatanganan nota kesepahaman tersebut yang sebelumnya juga diisi dengan workshop Program Sekolah Tani Muda Indonesia itu.

Komunitas petani menjalin kerjasama, menurut Sekretaris DPW Petani DIJ Asty Irwandiyah, bermula dari keprihatinan makin langkanya anak muda yang tertarik menjadi petani. “Kami mengharapkan melalui sentuhan teknologi digital, akan makin banyak anak muda yang kembali tertarik untuk berprofesi sebagai petani,” tuturnya.

Beberapa kesepekatan kerjasama dengan PT Telkom, lanjut Asty, DPW Petani DIJ akan menjadi reseller untuk fasilitas wifi ID Telkom. “Harga untuk petani akan dipatok lebih murah dibandingkan jika Telkom berjualan untuk umum. Jika untuk umum dijual lima puluh ribu rupiah, maka untuk petani hanya akan dihargai tiga puluh lima ribu rupiah,” paparnya.

Salah satu BUMN tersebut juga akan memfasilitasi pemasangan jaringan wifi di tempat-tempat para petani biasa berkumpul. “Di mana petani berkumpul, di situ PT Telkom siap memfasilitasi jaringan internetnya. Bahkan Telkom pun siap membuka situs jualannya sehingga petani bisa memanfaatkannya untuk menjual komoditas yang dimiliki,” tandas Asty. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan