Konser Amal Kolaborasi Tiga Perguruan Tinggi

Konser Amal: 'Penampilan paduan suara mahasiswa USD 'Cantus Firmus' pada konser amal tiga perguruan tinggi, USD, ISI Jogjakarta, dan Elisabeth University of Music, Jepang, di auditorium USD, Minggu (4/3) malam.

Konser Amal:¬†Penampilan paduan suara mahasiswa USD ‘Cantus Firmus’ pada konser amal tiga perguruan tinggi, USD, ISI Jogjakarta, dan Elisabeth University of Music, Jepang, di auditorium USD, Minggu (4/3) malam.

JOGJA – Tak memiliki program studi musik tak menyurutkan USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta menggelar sebuah konser amal internasional, di auditorium kampus mereka, Minggu (4/3) malam. Internasional karena selain dengan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta, konser itu juga melibatkan Elisabeth University of Music, Jepang. Pun dikatakan konser amal, terutama karena dimaksudkan untuk membangkitkan kepedulian semua pihak memberikan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu secara ekonomi.

Konser yang antara lain menyajikan repertoar musik klasik itu juga menandai pemberian beasiswa dari sebuah bank plat merah kepada mahasiswa USD. Sebesar 20 persen dari total mahasiswa USD berasal dari keluarga kurang mampu. “Pemerintah dan Sanata Dharma belum mampu memberikan beasiswa bagi mereka semua yang membutuhkan. Karenanya perlu keterlibatan berbagai pihak. Konser malam ini, salah satunya untuk mengetuk kepedulian bagi mahasiswa kurang mampu,” ujar Rektor USD Johanes Eka Priyatma MSc PhD.

Konser dibuka dengan paduan suara mahasiswa Cantus Firmus. Membawakan lima nomor lagu pop tanah air Mengejar Matahari yang dipopulerkan Ari Lasso, paduan suara beranggotakan 30 orang mahasiswa itu juga menyajikan lagu daerah Papua Yamko rambe Yamko. Penampilan yang cukup dinamis diselingi gerak tubuh alias koreografi yang menarik, membuat penampilan mereka cukup mendapat tepuk tangan meriah para penonton.

Paduan suara yang dibentuk sejak 1981 dan semula untuk paduan suara gereja itu juga membawakan tiga lagu mancanegara, masing-masing Strong yang merupakan salah satu nyanyian soundtrack film Cinderella, Viva la Vida yang dipopulerkan Chris Martin, serta Shut Up and Dance sebuah lagu yang dirilis pada 2014 oleh grup rock Amerika Serikat Walk the Moon.

Selanjutnya tampil mahasiswa magister Elisabeth University of Music, Jepang. Masing-masing Nami Ouchi pada piano, Miyeong Pak peniup flute, dan Siwat Limsuwan pada gitar. Ketiganya membawakan enam repertoar klasik. Diawali dengan permainan piano Ouchi yang membawakan Improvisasi no 15 Hommage a Edith Piaf dari komponis F Poulenc, disusul dengan Faschingsschwank aus Wien, Phantasiebilder op 26, 1 Allegro dari komponis D Schumann.

Berikutnya mereka membawakan Sevillana (Fantasia) gubahan J Turina, Fuga BMV 1000 karya JS Bach, Sunburst dari komponis A York yang menonjolkan petikan gitar Limsuwan, dan terakhir Carmen-Fantasie karya F Borne seorang pemain flute asal Prancis yang juga dikenal sebagai profesor di konservatori di Toulouse dan peniup flute pada orkestra Grand Theatre de Bordeaux.

Terakhir penampilan Studsy Band yang beranggotakan 81 orang mahasiswa ISI Jogjakarta dengan konduktor I Gusti Ngurah Wiryawan Budhiana. Dengan 90 persen merupakan brass session, para mahasiswa ISI Jogjakarta itu menyajikan lima repertoar. Meliputi Final Fantasy VII Original Soundtrack karya Nobuo Uematsu yang diaransir oleh Arnol Morrison, Call of Heroes karya Michael Geisler, Novena dari James Swearingen, The Mistery of Atlantis karya Michael Geisler, serta Barry Manilow on Tour karya Robert W Lowden. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan