Kontemplasi ‘Down to Dawn’ Seorang Teguh Macro

Teguh Santoso (kiri) dan Arbain Rambey

Teguh Santoso (kiri) dan Arbain Rambey

JOGJA – Perjalanan waktu semesta dari senja hingga fajar yang di dalamnya termuat tentang alam dan manusia, atau antara keduanya, terekam apik pada 35 karya foto Teguh Santoso yang dipajang di lantai dua Gudang Digital, Jalan Gejayan, Jogjakarta.

“Kali ini saya memang sengaja membidik kehidupan mulai dari senja hingga fajar. Lebih kontemplatif, rasanya,” tutur sang fotografer Teguh Santoso, yang dikenal pula dengan sebutan Teguh Macro, karena kecintaannya pada fotografi makro.

Di sela pembukaan pameran fotonya, Minggu (28/4) malam, Teguh banyak mengisahkan karya fotonya yang sangat beragam. Mengambil judul Down to Dawn, the Limit of Lights, pria kelahiran Solo 57 tahun silam itu membidik objek human interest, landscapes, astro, hingga macro.

Tidak semua yang dipamerkan, yang direncanakan hingga sebulan itu, merupakan karya foto terbarunya. “Saya pilih dari ratusan karya foto yang saya buat sejak 2009. Akhirnya, dibantu salah seorang fotografer senior, terpilihlah tiga puluh lima karya ini,” jelas Teguh.

Tapi semuanya, imbuh Teguh, merupakan objek yang saya bidik mulai dari senja hingga fajar. “Sesuai penanggalan bulan, sebenarnya awal hari itu dimulai dari senja hari hingga berakhir saat fajar, sesuai dengan perjalanan sang rembulan,” katanya.

Saat-saat itulah, menurut Teguh, kehidupan alam dan manusia itu menjadi sangat menarik untuk dibidik dan dituangkan dalam sebuah karya foto. “Ini sekaligus sebagai persiapan untuk penerbitan buku kedua saya dengan judul yang sama Down to Dawn, pada September mendatang,” paparnya.

Melihat sekilas karya-karya foto yang dipamerkan, Teguh memang tidak membatasi pada satu objek tertentu. Mulai dari Stasiun Tugu, Prambanan, Merapi hingga objek-objek yang lebih privat seperti petani saat pulang dari sawahnya, penjual wedang Ronde lengkap dengan gerobak angkringnya, ia tuangkan dalam karya foto yang sangat apik dengan teknik fotografi yang mencerminkan seorang senior di bidangnya.

Pada kesempatan pembukaan malam itu, Teguh juga mengundang fotografer senior Arbain Rambey untuk berbagi pengalaman pada diskusi yang dihadiri sejumlah penggemar fotografi lainnya. Arbain yang lama bekerja pada sebuah suratkabar nasional itu banyak mengemukakan tentang forografi sebagai seni dan fotografi sebagai profesi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan