Korporat Indonesia Belum Sadari Pentingnya Manajemen Aset

Winda Nur Cahyo ST MT PhD

Winda Nur Cahyo ST MT PhD

SLEMAN – Standarisasi manajemen aset sedang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Tak lama lagi manajemen aset pun diprediksi akan menjadi kebutuhan utama bagi sebuah perusahaan. Sayang, korporat di Indonesia, perusahaan swasta maupun BUMN, belum menyadari pentingnya manajamen aset. Bahkan pemerintah pun belum mengadopsi ISO 55000:2014, standar internasional untuk manajemen aset.

“Harus diakui masih banyak perusahaan di Indonesia yang kesulitan menerapkan manajemen aset. Standar internasionalnya, ISO 55000 memang baru dikenalkan pada 2014,” ungkap dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Winda Nur Cahyo ST MT PhD, di kampus setempat, Jalan Kaliurang Km 14,5 Sleman, DIJ, Selasa (28/11).

Selain belum menyadari dan terbiasa, perusahaan di Indonesia masih kesulitan menerapkan manajemen aset karena memang belum ada pola yang bisa dijadikan contoh. Sumberdaya manusianya, tenaga profesional di bidang manajemen aset, pun masih belum banyak. “Padahal manajemen aset sangat diperlukan agar sebuah perusahaan bisa berjalan optimal,” tutur Winda, lulusan doctor of Philosophy dari Universitas Wollongong, Australia itu.

Aset merupakan segala sesuatu yang dimiliki sebuah korporat, organisasi, perusahaan yang memiliki nilai aktual maupun potensial. Bisa berupa aset finansial atau aset yang bersifat fisik, tangible maupun intangible. “Semakin besar organisasi, biasanya aset yang dimiliki semakin kompleks dan memerlukan sumberdaya tersendiri untuk mengelolanya. Di situlah pentingnya manajemen aset,” tandas Winda.

Implementasi manajemen aset secara efektif, efisien, konsisten, dan berkesinambungan dapat membuat sebuah organisasi memahami dan mengoptimalkan nilai aset yang dimiliki serta dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi. “Pada prinsipnya, manajemen aset diperlukan untuk menyeimbangkan antara biaya, kinerja, dan risiko sehingga organisasi mampu membangun sebuah sistem, strategi, dan kebijakan yang optimal,” jelas Winda kemudian.

Tanpa manajemen aset yang baik, lanjut Winda, bisa saja muncul konflik di antara departemen yang ada di sebuah perusahaan. Misalnya terkait pengelolaan mesin produksi. Bagian keuangan tentu menginginkan biaya seminimal mungkin. Tapi bagian produksi, dengan alasan kualitas dan keandalan, bisa berujung pada biaya tinggi. “Dengan manajemen aset, konflik semacam itu bisa dihindari,” katanya.

Terkait masih kurangnya sumberdaya manusia di bidang manajemen aset di Indonesia, Magister Teknik Industri UII telah melakukan inisiasi kerjasama dengan Engineering Asset Management Group University of Wollongong, Australia. “Kami akan membuka konsentrasi di bidang manajemen aset. Nantinya bisa saja berkembang adanya program double degree dengan Universitas Wollongong,” papar Winda.

Dengan dibukanya konsentrasi Manajemen Aset, timpal Jerri Irgo selaku staf humas Fakultas Teknologi Industri UII, nantinya akan melengkapi empat konsentrasi yang sebelumnya telah dimiliki Magister Teknik Industri UII. “Empat konsentrasi sebelumnya, masing-masing Manajemen Industri, Teknologi Industri, Ergonomi, serta Logistic & Supply Chain,” ungkapnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan