Kultur Milenia Lebih Penting Ketimbang Keahlian

(kiri-kanan) Wawan Setiawan, Adityanto Prayogo, Hotman Permadi, Winda Nur Cahyo

(kiri-kanan) Wawan Setiawan, Adityanto Prayogo, Hotman Permadi, Winda Nur Cahyo

JOGJA – Budaya perusahaan, corporate culture, berperan penting dalam pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran perusahaan. Lebih penting ketimbang keahlian. Untuk itu, seluruh karyawan dituntut memahami dan menerapkannya dalam setiap perilaku dan aktivitas sehari-hari terutama di tempat kerja.

“Milenial itu jangan hanya diartikan mahir mengoperasikan gawai, bermedia sosial, dan lain-lain. Itu sekadar keahlian. Lebih dari itu, pola pikir dan kultur milenial justru lebih dibutuhkan untuk memajukan perusahaan,” ujar Kabag Manajemen Kinerja PT Bio Farma (Persero), Adityanto Prayogo, di kampus FTI-UII (Fakultas Teknologi Industri – Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Kamis (13/9). Turut mendampingi Kadiv dan Kabag Manajemen Aset dan Umum, Wawan Setiawan dan Hotman Permadi.

Di sela membagikan pengalaman praktisnya kepada 50 dosen dan mahasiswa baru Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII, itu Adityanto pun mengemukakan, pihaknya memang mengandalkan anak-anak muda generasi milenia guna memajukan perusahaan. “Tapi, bukan anak-anak muda yang hanya pandai mengoperasikan gawai maupun menguasai teknologi. Lebih dari itu, anak-anak muda yang dengan pola pikir dan kultur milenialnya mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” tegasnya.

Sebagai salah satu BUMN yang terutama memproduksi vaksin polio, itu Bio Farma lebih menyukai merekrut karyawan yang bisa diajak kerjasama secara tim. “Sebagai gambaran bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja, kami lebih menyukai anak-anak muda yang memiliki banyak inisiatif, tak harus menunggu perintah. Setia kepada NKRI juga penting,” tutur Adityanto kemudian.

Pola pikir dan kultur milenial itu pula yang dipraktikkan Bio Farma. Terbukti mampu meningkatkan efisiensi kerja maupun meningkatkan produktivitas. Dicontohkan, ekspor vaksin polio pada 2008 ditujukan ke 117 negara, sekarang sudah berkembang hingga ke 140 negara. Omsetnya pun meningkat dari Rp 800 miliar pada 2008 menjadi Rp 3,2 triliun sekarang ini.

“Semua pencapaian itu, relatif kami capai dengan jumlah karyawan yang sama. Artinya konsep, pola pikir, dan kultur milenial yang kami terapkan mencapai sasaran. Selain itu, kini kami juga sesedikit mungkin menggunakan kertas. Meeting tak harus tatap muka. Komunikasi antar-kayawan pun lebih egaliter dan lebih informal,” papar Adityanto lebih jauh.

Wawan menambahkan, perusahaannya terus melakukan riset pengembangan guna menghadapi era milenial, era revolusi industri 4.0 sekarang ini. “Kami terus melakukan penelitian guna mengembangkan produk selain vaksin polio,” tandasnya seraya menyatakan, produk vaksin polio Bio Farma merupakan salah satu dari 20 vaksin polio se dunia yang mengantongi kualifikasi WHO (Badan Kesehatan Dunia).

Ketua Prodi Teknik Industri Program Magister FTI UII, Winda Nur Cahyo ST MT PhD menyatakan, pihaknya memandang perlu menghadirkan para praktisi dari Bio Farma guna melaksanakan keseimbangan keilmuan antara teori dan praktis bagi mahasiswa baru.

“Kami mengharapkan, mahasiswa memiliki wawasan keilmuan dan pengetahuan praktis secara komprehensif yang berimbang tentang strategi dan budaya perusahaan dan pengelolaan manajemen aset di PT Bio Farma di era revolusi industri 4,0,” ujar Nur Cahyo kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan