Kuota Maba UAD Terbatasi Dosen dan Laboratorium

JOGJA – Banyak pertimbangan bagi perguruan tinggi ketika hendak menambah jumlah maba (mahasiswa baru). Tak terkecuali bagi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta. Tahun akademik ini terpaksa memendam keinginan menambah jumlah maba karena masih terbatasnya sarpras (sarana prasarana) maupun kondisi lainnya.

“Selain kampus terpadu yang lebih luas masih dalam tahap pembagunan, kuota maba tahun ini belum bisa tambah karena terbentur jumlah dosen dan sarpras terutama laboratorium,” ungkap Wakil Rektor III UAD, Dr Abdul Fadlil MT, di sela penutupan P2K (Program Pengenalan Kampus), di GOR Amongrogo Jogjakarta, Minggu (20/8).

Kalau ketersediaan ruang kuliah, tutur Fadlil, itu hanya persoalan teknis. Tinggal diatur jadualnya. Tapi, laboratorium belum mencukupi. Begitu pula rasio dosen – mahasiswa, belum memungkinkan untuk menambah jumlah maba tahun ini. “Kami tidak ingin mengorbankan kualitas pendidikan untuk mahasiswa hanya demi mengejar kuantitas.”

Seperti tahun sebelumnya, UAD tahun ini hanya akan menambah sekitar 6.000 orang maba. Sedangkan jumlah pendaftar mencapai lebih dari 9.000 orang. Fadlil pun meminta maaf jika masih ada lulusan SMA yang terpaksa belum bisa diterima pada tahun akademik ini.

Rasio jumlah pendaftar dengan yang diterima, menurut Fadlil, bervariasi di antara program studi maupun fakultas yang dimiliki. Hanya saja, terfavorit tetap fakultas farmasi. Rasionya 1:12 untuk tahun akademik ini. “Artinya, setiap calon mahasiswa harus mengalahkan duabelas pesaing lainnya.”

Mengenai P2K, ada yang berbeda untuk tahun ini. Jika saat pembukaan pada tahun-tahun sebelumnya masing-masing UKM (unit kegiatan mahasiswa) tampil menyuguhkan kebolehan mereka terpisah-pisah, tahun ini disatukan dalan satu pertunjukan besar.

“Kolaborasi kolosal mahasiswa yang ditampilkan pada pembukaan dan penutupan P2K itu merupakan salah satu cara untuk menyiasati agar P2K memberi kesan tidak terlupakan bagi maba. Menyinergikan seluruh elemen UKM dan komunitas yang ada di UAD ini juga merupakan gagasan lama, tapi baru teralisir sekarang,” tandas Fadlil.

Ketua Panitia Pusat P2K, Muhammad Taris mengemukakan, kolaborasi kolosal saat pembukaan bertajuk ‘Babar Tumapaking Nuswa Kencana’ yang memiliki arti mengurai perjalanan menuju keemasan Indonesia. Sesuai tema P2K 2017, ‘Bersama UAD Kita Kukuhkan Semangat Nasionalisme Menuju Indonesia Emas 2045’. “Dengan durasi satu jam dan melibatkan dua ratus mahasiswa,” jelasnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan