Kurang Edukasi Picu Perpecahan Agama

Kerukunan Beragama: Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP (kanan) dan narasumber lain dalam FGD 'Ancaman Kerukunan Umat Beragama', di kampus setempat, Selasa (6/2).

Kerukunan Beragama: Rektor UMY Dr Ir Gunawan Budiyanto MP (kanan) dan narasumber lain dalam FGD ‘Ancaman Kerukunan Umat Beragama’, di kampus setempat, Selasa (6/2).

JOGJA – Perpecahan antar-agama yang terjadi saat ini bukan hanya karena faktor ekonomi dan politik, tapi juga disebabkan oleh kurangnya edukasi terhadap masyarakat mengenai NKRI berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, ataupun permasalahan-permasalahan antar-agama lainnya.

“Faktor kurangnya edukasi yang memicu perpecahan antar-agama, terlihat dari kondisi masyakat saat ini,” tandas Dosen S3 Program Doktoral Politik Islam-Ilmu Politik UMY, Dr Mega Hidayati MA, dalam FGD (Focus Group Discussion) Ancaman Kerukunan Umat Beragama, di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Selasa (6/2).

Ketika ada musyawarah yang dilakukan untuk membahas permasalahan antar-agama atau antar-pemeluk agama, lanjut Mega, masyarakat akan terlihat rukun. Namun dalam kehidupan masyarakat yang sebenarnya, justru berbeda. Hasil musyawarah tidak sampai hingga masyarakat bawah atau akar rumput. “Ini menunjukkan terputusnya sosialisasi dari elit ke masyarakat, sehingga masyarakat tidak mendapatkan edukasi,” jelasnya.

Ekonomi dan politik sebagai faktor non agama, juga merupakan poin penting yang tidak bisa dipungkiri dapat mengganggu kerukunan beragama. “Namun, kita harus sedikit berhati-hati ketika menyebut ekonomi dan politik merupakan faktor non agama yang mempengaruhi kerukunan beragama karena masih ada faktor-faktor yang lain,” ungkap Mega.

Dosen Psikologi Pendidikan Islam UMY, Dr Muhammad Azhar mengusulkan perlunya peningkatan wawasan masyarakat, agar mereka tidak salah tangkap terhadap suatu persoalan sehingga lebih toleran dan meningkatkan kerukunan antar-umat beragama. “Faktor lain, memberikan literasi terhadap masyarakat saat ini yang sudah kecanduan teknologi. Selain, pemerintah juga perlu tegas terhadap kelompok-kelompok yang menamakan dirinya sebagai laskar-laskar karena hal tersebut justru semakin memperburuk keadaan.”

Dosen FAI UMY, Muh Syamsuddin MPd menilai, perlu adanya pengkajian kembali terhadap kurikulum pendidikan. “Saat ini terdapat beberapa pembelajaran yang telah dihapuskan, seperti Pendidikan Moral Pancasila. Itu ternyata membawa imbas terhadap perilaku anak didik. Seperti yang dapat kita lihat saat ini, perilaku anak-anak Indonesia yang semakin tidak bermoral,” tuturnya kemudian.

Sosok militan dan toleran seseorang juga merupakan hasil dari lembaga pendidikan. “Setiap lembaga pendidikan di Indonesia memiliki karakteristik masing-masing. Yang militan menghasilkan SDM militan. Yang moderat menghasilkan sosok moderat pula. Maka dari itu perlu ada dialog antar-lembaga pendidikan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik,” jelas Syamsuddin.

Dekan Fakultas Hukum UMY, Dr Trisno Rahardjo SH MHum mengatakan, kerukunan umat beragama tentu tidak dapat terpisahkan dari faktor hukum, untuk menjaga ketertiban di dalam masyarakat. Namun, banyak tokoh yang berpendapat agama sudah memiliki aturan sendiri karena ada Tuhan yang akan memberikan hukuman kepada yang bersalah.

Dalam konteks hukum, imbuh Trisno, aturan-aturan yang telah dibuat itu untuk digunakan semestinya dan tidak ditenggelamkan serta dilupakan. Aparatur negara penegak hukum perlu tegas. “Banyak ditemukan kasus-kasus yang dapat ditangani secara cepat sehingga tidak menimbulkan kerugian. Namun pada kasus tertentu penanganan berjalan lambat. Ini menunjukan lemahnya law inforcement di Indonesia.”

Rektor UMY, Dr Ir Gunawan Budiyanto MP mengharapkan, rekomendasi yang dihasilkan bisa menjadi pertimbangan dan dapat membawa kebaikan terhadap kerukunan umat beragama. “Perpecahan yang terjadi saat ini tidak hanya antar-agama namun juga di internal agama. Jika diklasifikasikan secara sosial, misalkan karakter pemeluk agama Islam di Indonesia, mungkin sudah lebih dari dua puluh macam. Inilah yang mungkin harus ada payung sosial untuk mempersatukan semua,” tegasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan