Kursi ‘Pintar’ Untuk Anak Autis CDD

Walker Chair: Empat orang mahasiswi FTI UII dengan medali perunggu, model walker chair, dan sertifikat juara mereka.

Walker Chair: Empat orang mahasiswi FTI UII dengan medali perunggu, model walker chair, dan sertifikat juara mereka.

SLEMAN (jurnaljogja.com) – Tak semua anak penderita autis memperoleh sarana pengembangan diri yang tepat. Orangtua pun sering kebingungan mendampingi anak mereka yang menderita kelainan tersebut. Kondisi itu menginspirasi empat orang mahasiswi UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta menciptakan kursi ‘pintar’, walker chair, bagi anak autis.

“Kami tidak menyasar semua tipe anak autis. Walker chair ini kami khususkan untuk anak autis tipe CDD, Childhood Disintegrative Disorder,” ujar mahasiswi semester III prodi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri UII, Nazula Rukhiana M, kepada wartawan, di kampus setempat, Jalan Kaliurang Km 14,5 Sleman DIJ, Selasa (21/11), didampingi tiga rekannya Aprilia Putri Lestari, Febidhea Ayu Muflihah, dan Indah Purnama Sari.

Autisme ternyata memiliki beberapa tipe . Salah satunya tipe CDD. Gejala autis CDD tidak terlihat sejak awal. Terlihat ketika anak memasuki usia tiga tahun hingga lima tahun. Ditandai dengan hilangnya kemampuan motorik anak. Tiba-tiba tidak bisa berjalan, atau tidak bisa bicara, tidak bisa makan sendiri bahkan menelan, atau menjadi suka mengompol.

“Karena merancang kursi ini, justru kami baru mengetahui ternyata autisme memiliki beberapa tipe. Dan kami tidak bisa mengujicoba kursi ini karena ternyata tidak ada anak di Indonesia penderita autis CDD. Entah karena memang benar-benar tidak ada atau karena tidak terdiagnosis. Atau, orangtua yang tidak menyadari anaknya menderita autis CDD,” ungkap Nazula.

Karena kelangkaan itulah justru para mahasiswi itu melakukan konsultasi dengan profesor di Inggris yang memiliki komunitas orangtua dengan anak penderita autis CDD. “Dari konsultasi jarak jauh itu kami menggali sekaligus memperoleh masukan untuk menyempurnakan rancangan walker chair itu,” tutur Nazula kemudian.

Kursi ‘pintar’ rancangan empat orang mahasiswi itu menyerupai modifikasi baby walker. “Bedanya, jika baby walker untuk anak usia nol sampai enam bulan, walker chair rancangan kami ini untuk anak usia tiga hingga lima tahun. Kami lengkapi pula dengan kotak musik, serta permainan puzzle dan labirin untuk pengembangan diri anak autis CDD tersebut,” timpal Indah.

Dari konsultasi dengan komunitas orangtua di Inggris serta salah seorang dokter di Indonesia, lanjut Indah, kemudian ketinggian walker chair dirancang agar anak penggunanya bisa menapakkan kakinya ke tanah atau lantai. “Kami juga melengkapi dengan rem yang bisa dioperasikan oleh orangtua demi keamanan si anak,” tandasnya.

Kendati baru model, belum ada produk yang sesungguhnya, tapi rancangan walker chair milik empat orang mahasiswi UII itu mampu menyabet medali perunggu pada lomba yang digelar di Universiti Malaya, Malaysia. “Yang membanggakan, lomba itu tidak khusus untuk mahasiswa. Tapi, untuk umum. Sehingga pesaing mereka ada yang profesor, bergelar doktor, bahkan profesional lainnya. Nyatanya, mereka tetap mampu memperoleh perunggu,” ujar Dekan FTI UII, Dr Imam Djati Widodo, membanggakan prestasi mahasiswanya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan