Lamban Pemetaan Bahasa Daerah

Dadang Sunendar

Dadang Sunendar

JOGJA – Bahasa menjadi salah satu identitas bangsa. Tak terkecuali ratusan bahasa daerah di Indonesia yang menjadi kekayaan tersendiri, karena bangsa atau negara lain belum tentu memilikinya. Hanya saja, pemetaan bahasa daerah di Indonesia berjalan lamban.

“Pemetaan bahasa daerah sangat penting. Paling tidak, untuk mengidentifikasikannya,” ungkap Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kemendikbud, Prof Dr Dadang Sunendar MHum, di hadapan peserta ICILLE (International Conference on Interdisiplinary Language, Literature, and Education), yang digelar PSBI FBS UNY (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta), di Hotel Rich Jogjakarta, Rabu (10/10).

Dengan mengidentifikasi bahasa daerah, lanjut Dadang, dapat diketahui seluk-beluk bahasa tersebut. “Sekaligus sangat penting terkait dengan upaya pelestariannya,” tandasnya seraya menyatakan, ada semacam prinsip yang tak bisa lagi diganggu-gugat di lingkup Badan Bahasa, yakni Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Dadang menyatakan pemetaan bahasa daerah berjalan lamban karena sejak 1991 sampai sekarang, baru ada 652 bahasa daerah yang sudah diidentifikasi. “Saya meyakini lebih dari tujuhratusan bahasa daerah yang sebenarnya kita miliki. Unik dan harus dilestarikan karena negara lain tak memiliki kekayaan itu,” paparnya kemudian.

Alasan lambannya pemetaan, bermacam-macam. Mulai dari kendala geografis, pendanaan, hingga kurangnya jumlah peneliti. “Karenanya pemerintah perlu mengutamakan pemetaan ini. Para orangtua pun jangan lupa mewariskan bahasa daerah masing-masing kepada anak-anaknya sejak kecil agar bahasa tersebut tetap lestari,” papar Dadang.

Ada beberapa kategori bahasa daerah menurut Badan Bahasa. Mulai dari aman, stabil tapi ada kemunduran, terancam punah, hingga kritis. “Bahasa Jawa masih termasuk kategori aman. Tapi jangan kemudian tidak berbuat apa-apa, karena batasannya sangat tipis dengan kategori stabil tapi ada kemunduran. Perlu waspada,” tegas Dadang.

Konferensi dua hari, hingga Kamis (11/10), dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I UNY Prof Dr Margana MHum itu mempresentasikan tak kurang dari 183 makalah. Mengundang pula pembicara, Dr Elizabeth Hartnell-Young (University of Melbourne), Assoc Prof Dr mawar Safei (Universiti Kebangsaan Malaysia), Hywel Coleman PhD (University of Leeds), serta Prof Suminto A Sayuti dan Prof Drs Herman Dwi Surjono MSc MT PhD (UNY). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan