Layanan Primer Kesehatan Perlu Tenaga Kefarmasian

H Kasiyarno dan Dyah Aryani Perwitasari

H Kasiyarno dan Dyah Aryani Perwitasari

JOGJA – Hanya 2.641 puskesmas, dari total 9.821 puskesmas di seluruh Indonesia yang melaporkan data pada 2017, yang melaporkan memiliki tenaga kefarmasian. Hanya 12.155 orang tenaga kefarmasian yang ada di puskemas di seluruh Indonesia, menunjukkan tak semua puskesmas dapat melaksanakan konsep pengobatan individu berdasar pilihan pasien.

“Karenanya kecukupan tenaga kefarmasian di tingkat pelayanan primer perlu dipenuhi agar konsep pengobatan individu berdasar pilihan pasien dapat dipenuhi,” ujar Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari MSi PhD Apt, dalam pidato pengukuhan guru besar pada Fakultas Farmasi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, di kampus setempat, Sabtu (9/2).

Pengobatan yang tepat merupakan pendekatan baru untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang mempertimbangkan gen, lingkungan, dan pola hidup seseorang. “Penyakit yang diderita pasien tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Karenanya pengobatan dengan konsep terapi individu dibutuhkan untuk menimimalisasi risiko pengobatan,” tegas Dyah.

Konsep terapi individu, lanjut Dyah, dapat diterapkan di Indonesia. “Konsep terapi individu, melakukan pengobatan dengan nilai-nilai yang dimiliki pasien, berdasarkan pertimbangan untuk memberikan keputusan terkait kesehatan dan pengobatannya,” jelasnya kemudian.

Hanya saja tidak semua puskesmas bisa melaksanakan konsep pengobatan individu berdasarkan pilihan pasien. “Kecukupan tenaga kefarmasian di tingkat pelayanan primer masih jadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi,” tutur Dyah.

Dyah, menurut Rektor UAD Dr H Kasiyarno MHum, merupakan guru besar keempat yang dimiliki UAD. “Tambahnya guru besar, melengkapi tiga orang profesor yayasan sebelumnya, diharapkan semakin memajukan universitas,” katanya.

Selain SK (Surat Keputusan) dari Kemenristekdikti bagi jabatan Guru Besar untuk Dyah, UAD pada kesempatan sama juga menerima SK untuk dua program studi baru. Masing-masing prodi Magister Kesehatan Masyarakat, dan prodi Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif.

Dengan tambahan prodi tersebut, tutur Kasiyarno, UAD kini memiliki 50 prodi. Meliputi 12 prodi pascasarjana dan 38 prodi S1. “Masih ada sembilan prodi baru lagi dan dua S3 yang saat ini sedang dalam pengajuan ke kementerian,” paparnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan